Noorfaizin's Blog
Just another WordPress.com weblog

PENINGKATAN SIKAP PROFESIONALISME GURU MELALUI KEGIATAN SUPERVISI KLINIS DI SEKOLAH DASAR

BAB I

PENDAHULUAN

Kalau kita melihat sejarah terdahulu, bahkan pada zaman penjajahan sekalipun, kedudukan dan profesi guru sangat disegani dan dimuliakan. Dalam berbagai kegiatan, baik kegiatan kemasyarakatan maupun kenegaraan, para guru selalu ditempatkan pada posisi terdepan. Bahkan, dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia pun guru selalu berada pada garda terdepan untuk menunjukkan kecintaannya terhadap tanah air dan rakyat Indonesia. Seperti yang kita ketahui, Panglima Besar Jenderal Sudirman, Imam Bonjol, dan Ki Hajar Dewantara pun adalah seorang guru yang disegani.

Sering kita jumpai pada zaman dulu, tidak pernah ada orang tua siswa marah karena anaknya “dihajar”. Bahkan, para orang tua siswa selalu berterima kasih bila anak mereka “dihajar” oleh guru karena melakukan tindakan yang melanggar. Harga diri, wibawa, penghargaan masyarakat, dan penghargaan materi pun saat itu sangat memadai bagi guru. Sehingga posisi guru dipandang sebagai polisi yang mulia dan terhormat. Bahkan tidak jarang guru dianggap sebagai manifestasi dari sifat ketuhanan yang berakar dari istilah Rabb.

Dalam proses pendidikan, guru tidak hanya menjalankan fungsi sebagai pemindah ilmu pengetahuan (Transfer of Knowledge) dari guru ke murid (Top Down), tetapi juga berfungsi sebagai orang yang menanamkan nilai (values), membangun karakter (character building) serta mengembangkan potensi besar yang dimiliki siswa secara berkelanjutan. Guru adalah ujung tombah dalam melaksanakan misi pendidikan di lapangan serta merupakan faktor sangat penting dalam mewujudkan sistem pendidikan yang bermutu dan efisien. Oleh karena itu, guru harus bangun dan berdiri dari tidur nyenyaknya yang selalu membanggakan slogan “pahlawan tanpa tanda jasa”. Nasib guru adalah di tangan guru. Guru harus bangkit untuk mengubah citra profesionalisme yang mapan baik dalam pengabdian maupun dalam penghidupan kesehariannya.

Karena guru menjadi figur sentra dalam dunia pendidikan, khususnya dalam proses belajra mengajar (PBM), maka setiap guru diharapkan memiliki karakteristik (ciri khas) kepribadian yang ideal sesuai dengan persyaratan yang bersifat psikologis-pedagogis. Pemapanan kepribadian guru menuju guru profesional adalah salah satu cara yang tepat untuk bangkit dalam keterbenaman. Dan itu membutuhkan waktu dan perangkat yang cukup matang.

Pendidikan dan guru laksana dua sisi mata uang, sama-sama penting dan saling bergantung. Pendidikan yang baik hanya dapat terwujud, manakala dilengkapi dengan guru-guru yang berkualitas, kreatif, berintegritas tinggi dan demokratis. Guru memang bukan satu-satunya elemen penentu keberhasilan pendidikan, namun tidak berlebihan apabila dikatakan guru adalah kunci utama pendidikan. Perubahan kurikulum dengan beragam julukannya mulai dari CBSA, KBK, sampai dengan KTSP tidak akan membawa perbaikan yang signifikan manakala guru tidak memahami dan menjalankan profesinya secara kreatif dan bertanggung jawab. Guru adalah ujung tombak pendidikan, sementara birokrasi pendidikan hanyalah sebagai motivator untuk meningkatkan kecerdasan dan kreatifitas peserta didik (murid).

Salah satu kegiatan paling penting dalam penyelenggaraan pendidikan adalah meningkatkan dan menjaga mutu pendidikan. Sebagai suatu sistem yang terdiri dari input, proses, dan output, maka yang dimaksud dengan mutu pendidikan dalam hal ini ialah mutu output dari sistem pendidikan tersebut yang wujudnya adalah perkembangan atau kemajuan pada diri murid. Ini berarti bahwa suatu sistem  pendidikan dengan input yang bagus, maka ia adalah sistem pendidikan yang bermutu rendah. Begitu pula halnya, meskipun seratus persen anak didik telah mengikuti ujian dan lulus, tetapi jika kualifikasi atau mutu lulusannya sangat rendah, tentu tidak dapat dikatakan sistem pendidikan tersebut bermutu.

Sistem pendidikan (sekolah) dikatakan efektif dan bermutu jika lulusannya mencapai tingkat perkembangan yang baik dan menguasai semua mata pelajaran yang diajarkan dengan baik sesuai dengan standar yang ditetapkan. Salah satu poisi kunci untuk mewujudkan upaya tersebut di atas adalah pengawasan akademik. Yang dimaksud di sini adalah kegiatan yang dilakukan oleh seseorang yang diposisikan sebagai pengawas, yang tugas pokoknya adalah memantau, mengendalikan, dan memberikan bantuan agar tujuan pengajaran dapat tercapai secara optimal. Seperti lazimnya kegiatan pengawasan (supervisi), maka hakekatnya dari pengawasan adalah pengendalian dan kontrol.

A. Latar Belakang Masalah

Guru merupakan sosok yang begitu dihormati lantaran memili andil yang sangat besar terhadap keberhasilan pembelajaran di sekolah. Guru sangat berperan dalam membantu perkembangan peserta didik untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal. Ketika orang tua mendaftarkan anaknya ke sekolah, pada saat itu juga ia menaruh harapan terhadap guru, agar anaknya dapat berkembang secara optimal (Mulyasa, 2005:10).

Seseorang dikatakan sebagai guru tidak cukup tahu suatu materi yang akan diajarakan, tetapi pertama kali harus merupakan seseorang yang memang memiliki kepribadian guru, dengan segala ciri tingkat kedewasaannya. Dengan kata lain bahwa untuk menjadi guru atau pendidik, seseorang harus berpribadi. (Sardiman A.M., 1992:135).

Masalahnya yang penting adalah mengapa guru itu dikatakan sebagai pendidik. Guru memang seorang pendidik, sebab dalam pekerjaannya ia tidak hanya mengajar seseorang agar tahu beberapa hal, tetapi guru juga mengalihkan beberapa keterampilan dan terutama sikap mental anak didik. Mendidik sikap mental seseotan tidak cukup hanya mengajar sesuatu pengetahuan tetapi bagaimana pengetahuan itu harus dididikkan/diajarkan, dengan guru sebagai idolanya.

Minat, bakat, kemampuan, dan potensi peserta didik tidak akan berkembang secara optimal tanpa bantuan guru. Dalam kaitan ini guru perlu memperhatikan peserta didik secara individual. Tuga guru tidak hanya mengajar, namun juga mendidik, mengasuh, membimbing, dan membentuk kepribadian siswa guna menyiapkan dan mengembangkan sumber daya manusia (SDM).

Dengan mendidik dan menanamkan nilai-nilai yang terkandung pada berbagai pengetahuan yang dibarengi dengan contoh-contoh teladan dari sikap dan tingkah laku gurunya, diharapkan anak didik/siswa dapat menghayati dan kemudian miliknya, sehingga dapat menumbuhkan sikap mental. Jadi tugas seorang guru bukan sekedar menumpahkan semua ilmu pengetahuan tetapi juga mendidik seseorang menjadi warga negara yang baik, menjadi seseorang yang berperilaku baik dan utuh. Mendidik berarti mentransfer nilai-nilai kepada siswanya. Nilai-nilai tersebut harus diwujudkan dalam tingkah laku sehari-hari. Oleh karena itu pribadi guru itu sendiri merupakan perwujudan dan nilai-nilai yang akan ditransfer. Mendidik adalah mengantarkan anak didik agar menemukan dirinya, menemukan kemanusiaannya. Mendidik adalah memanusiakan manusia. (Sardiman A.M., 1992:136).

Ironisnya, kekhawatiran di dunia pendidikan kini menyeruak ketika menyaksikan tawuran antar pelajar yang bergejolak di mana-mana. Ada kegalauan muncul kala menjumpai realitas bahwa guru di sekolah lebih banyak menghukum daripada memberi reward siswanya. Ada kegundahan yang membuncah ketika sosok guru berbuat asusila terhadap siswanya.

Dunia pendidikan yang seharusnya penuh dengan kasih sayang, tempat untuk belajar dengan moral, budi pekerti justru sekarang ini dekat dnegan tindak kekerasan dan asusila. Dunia pendidikan seharusnya mencerminkan sikap-sikap intelektual, budi pekerti, dan menjunjung tinggi nilai moral, justru telah dicoreng oleh segelintir oknum pendidikan (guru) yang tidak bertanggung jawab. Realitas ini mengandung pesan bahwa dunia pendidikanharus segera melakukan evaluasi ke dalam. Sepertinya, sudah waktunya untuk melakukan pelurusan kembali atas pemahakan dalam memposisikan profesi guru.

Kesalahan guru dalam memahami profesinya akan mengakibatkan bergesernya fungsi guru secara perlahan-lahan. Pergeseran ini telah menyebabkan dua pihak yang tadinya sama-sama membawa kepentingan dan saling membutuhkan, yakni guru dan siswa, menjadi tidak lagi saling membutuhkan. Akibatnya suasana belajar sangat memberatkan, membosankan, dan jauh dari suasana yang membahagiakan. Dari sinilah konflik demi konflik muncul sehingga pihak-pihak di dalamnya mudah frustasi lantas mudah melampiaskan kegundahannya dengan cara-cara yang tidak benar.

Guru masa depan bangsa kita, masyarakat kita, sangat membutuhkan para guru-guru yang mampu mengangkat citra pendidikan kita terkesan sudah carut-marut, dan seperti benang kusut. Sehingga bagaimana harus dimulai, kapan dan siapa yang memulainya, dan dari mana harus dimulai.

Jika kita masing-masing menyadari, memiliki rasa kepedulian, mau berbagi rasa, atau kalaulah mau kita ber-tepo seliro, maka pendidikan kita seperti disebutkan di atas, akan dapat dianulir. Oleh sebab itu semua ktia memiliki satu persepsi, satu langkah dan satu tujuan sebagaimana kita berusaha mengangkat citra pendidikan tersebut, menjadi pendidikan bermutu, dan tentunya diharapkan mampu untuk mengangkat peringkat dan citra pendidikan termasuk terendah di Asia.

Kepribadian guru mampu mempunyai pengaruh langsung dan kumulatif terhadap hidup dan kebiasaan-kebiasaan belajar para siswa. Yang dimaksud dengan kepribadian di sini meliputi pengetahuan, keterampilan, ideal, sikap, dan juga persepsi yang dimilikinya tentang orang lain. Para siswa menyerap sikap-sikap gurunya, merefleksikan perasaan-perasaannya, meniru tingkah lakunya dan mengutip pengetahuan-pengetahuannya. Pengetahuan mewujudkan bahwa masalah seperti motivasi, disiplin, tingkah laku sosial, prestasi, dan hasrat belajar yang terus menerus itu semuanya bersumber dari kepribadian guru. (Oemar Hamalik, 2002:35).

Satu hal yang akan menjadi titik perhatian kita adalah “bagaimana merancang guru masa depan yang menjadi teladan”. Guru masa depan adlaah guru yang memiliki kemampuan, dan keterampilan bagaimana dapat menciptakan hasil pembelajaran secara optimal, selanjutnya memiliki kepekaan di dalam membaca tanda-tanda zaman, serta memiliki wawasan intelektual dan berpikiran maju, tidak pernah merasa puas dengan ilmu pengetahuan yang ada padanya.

Sesuai dengan perkembangan masyarakat dan perkembangan pendidikan di negara kita, maka paradigma tenaga pendidikan pun sudah seharusnya mengalami perubahan pula, khususnya yang berkaitan dengan supervisi atau kepengawasan pendidikan ini. Dengan paradigma lama tergambar bahwa kegiatan tidak dapat diharapkan berjalan lancar dengan sendirinya sesuai dengan rencana dan tujuan yang  telah ditetapkan, jika tidak diawasi. Apa yang diharapkan untuk dikerjakan seseorang atau sekelompok orang, seringkali kurang bahkan tidak dilakukan, bukan karena tidak mau atau tidak mengerti, tetapi karena tidak ada orang yang mengawasi. Jadi peran pengawas saat ini sangat dominan. Dengan pengawasan seperti ini pula diharapkan suatu rencana kegiatan dapat terlaksana sesuai dengan garis yang ditetapkan.

Berdasarkan gambarn tersebut dapat dipahami bahwa pengawasan cenderung bersifat otokratis, mencari-cari kesalahan atau kelemahan orang lain dan berorientasi pada kekuasaan dan kekuatan. Pengertian pengawasan seperti ini sering disebut inspeksi atau memeriksa, orang yang melakukan pemeriksaan itu sendiri disebut inspektur.

Perubahan demi perubahan telah dialami dan dilalui. Demikian pula pengertian pengawasan seperti  di atas lambat laun mengalami perubahan pula.

Perubahan-perubahan barat mulai masuk, sehingga pengertian pengawasn dalam pendidikan diubah menjadi supervisi yang maksudnya hampir sama dengan inspeksi, tetapi istilah supervisi mengandung pengertian yang lebih luas dan lebih demokratis, tidak hanya melihat apakah kepala sekolah, guru, dan pegawai sekolah telah melakukan tugas dan kegiatan sesuai dengan pedoman yang ada, akan tetapi juga berusaha mencari jalan keluar bagaimana cara perbaikannya. Para supervisor pun berkewajiban memberikan bimbingan, pembinaan, dan petunjuk-petunjuk yang diperlukan. Hubungan antara pengawas/supervisor dengan yang diawasi lebih bersifat kemitraan, hubungan komunikasi pun tidak lagi one way traffic tetapi two way traffic.

Dengan paradigma baru ini diharapkan para pendidik dan para supervisor dapat menjalin kerjasama yang lebih harmonis dalam rangka mengemban tugas-tugas kependidikan yang dibebankan kepada diri masing-masing. Dengan harapan guru dapat menjalankan tugas secara profesional sesuai dengan tugas, fungsi, dan tanggung jawabnya.

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, maka dalam penelitian ini mengambil judul “Peningkatan Sikap Profesionalisme Guru melalui Kegiatan Supervisi Klinis di SD Negeri 2-5 Bangsri Kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara Tahun 2008/2009”.

B. Identifikasi Masalah

Dari latar belakang masalah yang telah peneliti kemukakan di atas, maka dapat terdapat beberapa masalah, antara lain:

  1. Terbatasnya pengetahuan guru tentang tugas utama sebagi pekerjaan profesi di SD Negeri 2-5 Bangsri Kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara;
  2. Sebagian besar guru belum melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, sehingga belum bisa dikatakan sebagai guru yang profesional;
  3. Terbatasnya kesempatan supervisor mengontrol tugas dan tanggung jawab guru, menyebabkan kualitas lulusan yang kurang maksimal;
  4. Dari hasil supervisi yang telah dilakukan belum maksimalnya keteladanan guru dalam bersikap dan berperilaku dalam kehidupan sehari-hari.

C. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, dapat ditarik beberapa perumusan, yaitu:

  1. Bagaimana sikap dan perilaku profesional guru di SD Negeri 2-5 Bangsri Kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara?
  2. Apakah dengan kegiatan supervisi klinis dapat meningkatkan sikap profesional guru SD Negeri 2-5 Bangsri Kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara?

D. Pemecahan Masalah

Pelaksanaan penelitian ini menggunakan pendekatan supervisi klinis. Supervisi klinis merupakan suatu pross pembimbingan yang bertujuan meningkatkan profesionalitas guru, dengan penekanan pada penampilan mengajar, melalui prosedur yang sistematis yang dimulai dari pertemuan pendahuluan, observasi kelas dan pertemuan balikan guna mendapatkan perubahan tingkah laku mengajar yang diharapkan (Ahmad Anzhori, 2003:19).

Tujuan supervisi klinis adalah untuk meningkatkan profesionalitas guru degan penekanan pada perbaikan penampilan mengajar. Sehubungan dengan tujuan supervisi klinis tersebut, maka sasarannya adalah penampilan mengajar guru. Penampilan mengajar dapat dilihat dari aktualisasi aspek-aspek keterangan yang ditujuan oleh guru ketika melaksanakan proses belajra mengajar.

Keterampilan yang perlu ditingkatkan oleh guru, meliputi:

  1. Siasat membuka dan menutup pelajaran;
  2. Kefasihan bertanya;
  3. Keterampilan menerangkan;
  4. Fariasi stimulus;
  5. Dorongan terhadap pertisipasi siswa;
  6. Ilustrasi dan menggunakan contoh-contoh;
  7. Penguasaan kelas;
  8. Keterampilan berkomunikasi;
  9. Memberikan penguatan (reinforcement).

Bertitik tolak pada uraian tersebut di atas, dan mengingat beberapa masalah yang ada di SD Negeri 2-5 Bangsri Kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara, maka salah satu alternatif pemecahan masalahnya adalah dengan digiatkannya supervisi klinis.

E. Hipetesis Tindakan

Hipotesis karya ilmiah ini adalah melalui supervisi klinis dapat mengingkatkan sikap profesionalisme guru dalam pembelajaran di SD Negeri 2-5 Bangri Kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara tahun pelajaran 2008/2009.

F. Tujuan Penelitain

Berdasarkan rumusan masalah tersebut di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan sikap profesionalisme guru melalui kegiatan supervisi klinis di SD Negeri 2-5 Bangsri Kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara tahun pelajaran 2008/2009.

G. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Memberikan informasi atau pengetahuan baru dan mengkaji peningkatan sikap profesionalisme guru melalui kegiatan supervisi klinis, sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan di SD Negeri 2-5 Bangsri Kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara.

2. Manfaat Praktis

  1. Untuk memberikan masukan dan membantu para pendidik agar dapat meningkatkan sikap profesional dalam melaksanakan tugas pembelajaran;
  2. Untuk memberian masukan kepada supervisor dan kepala sekolah, untuk memberikan bimbingan kepada para pendidik agar selalu meningkatkan sikap profesional dalam tugas pembelajaran.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Sikap Profesionalisme Guru

1. Pengertian Sikap Profesionalisme Guru

Sikap dapat diartikan perbuatan atau tindakan yang berdasarkan pada pendidikan (pendapat atau keyakinan). (Anton M. Moeliono, dkk., 1993:838). Thursthoen dalam Walgito (1990:108) menjelaskan bahwa, sikap adalah gambaran kepribadian seseorang yang terlahir melalui gerakan fisik dan tanggapan pikiran terhadap suatu keadaan atau suatu obyek. Azwar (2000:5) menerangkan sikap seseorang pada suatu obyek adalah perasaan atau emosi, dan faktor kedua adalah reaksi/respon atau kecenderungan atau bereaksi. Sebagai reaksi maka sikap selalu berhubungan dengan dua alternatif, yatiu senang (like)(dislike), menurut dan melaksanakan atau menjauhi dan menghindari sesuatu.
atau tidak senang

Dari pendapat di atas, dapat dikatakan bahwa sikap adalah kecenderungan, pandangan, pendapat, atau pendirian seseorang untuk menilai suatu obyek atau persoalan dan tindakan sesuai dengan penilaiannya dengan menyadari perasaan positif dan negatif dalam menghadapi suatu obyek.

Berasal dari kata profesi, yang artinya bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (keterampilan, kejujuran, dan lain sebagainya) tertentu. Kata profesional dapat diartikan kepandaian khusus untuk menjalankannya (Anton M. Moeliono, dkk., 1993:702).

Di dalam buku Profesionalisme Pengawas Pendidikan Agama Islam yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama, profesionalisme adalah ide, aliran, atau pendapat bahwa suatu profesi harus dilaksanakan oleh profesional dengan mengacu kepada norma-norma profesionalisme (Dirjen Kelembagaan Agama Islam Depag RI, 2003:9).

Dengan demikain, sikap profesional yaitu perilaku yang memenuhi persyaratan tertentu, bukan perilaku pribadi yang dipengaruhi sifat-sifat atau kebiasaan pribadi. Sikap profesional merupakan sikap yang harus dilaksanakan oleh profesional ketika melaksanakan profesinya.

Salah satu aspek dari sikap profesional adalah kemandirian dalam melaksanakan profesinya. Dalam melaksanakan profesi tersebut profesional mempu mengambil keputusan secara mandiri dan mampu membebaskan dirinya dari pengaruh luar termasuk pengaruh dari interest pribadinya. Namun demikian, prinsip kemitraan kerja dengan berbagai pihak terkait tetap masih dibutuhkan dalam rangka mengembangkan dan mengingkatkan profesi yang digeluti.

2. Guru sebagai Tenaga Profesional

Kehadiran guru dalam proses belajar mengajar atau pengajaran masih tetap memegang peranan penting. Peranan guru dalam proses pengajaran belum dapat digantikan oleh mesin, radio, tape recorder, ataupun oleh komputer yang paling canggih sekalipun. Masih terlalu banyak unsur-unsur manusiawi seperti sikap, sistem nilai, perasaan, motivasi, kebiasaan, dan lain-lain yang diharapkan merupakan hasil dari proses pengajaran, tidak dapat dicapai melalui alat-alat tersebut. Di sini lah kelebihan manusia dalam hal ini guru dari alat-alat atau teknologi yang diciptakan manusia untuk membantu dan mempermudah kehidupannya.

Dengan demikian dalam sistem pengajaran mana pun, guru selalu menjadi bagian yang tidak terpisahkan, hanya peran yang akan dimainkannya akan berbeda sesuai dengan tuntutan sistem tersebut. Jalan pengajaran atau proses belajar mengajar guru memegang peran sebagai sutradara sekaligus aktor. Artinya, pada guru lah tugas dan tanggung jawab merencanakan dan melaksanakan pengajaran di sekolah (Nana Sudjana, 1989:12).

Kedudukan guru sebagai tenaga perofesional akan lebih tepat diketahui terlebih dahulu mengenai maksud profesi. Pengertian profesi itu memiliki banyak konotasi, salah satu di antaranya tenaga pendidikan, termasuk guru. Secara umum, profesi diartikan sebagai suatu pekerjaan yang memerlukan pendidikan lanjut. Sebagai perangkat dasar untuk mengimplementasikan dalam berbagai kegiatan yang bermanfaat. Dalam aplikasinya, menyangkut aspek-aspek yang lebih bersifat mental daripada yang bersifat manual work. Pekerjaan profesional akan senantiasa menggunakan teknik dan prosedur yang berpijak pada landasan intelektual yang harus dipelajari secara sengaja, terencana dan kemudian dipergunakan demi kemaslahatan orang lain (Sardiman A.M., 1992:130).

Peters dalam Nana Sudjana (1989:15), mengemukakan ada tiga tugas dan tanggung jawab guru sebagai tugas pokok profesi, yakni: (1) guru sebagai pengajar; (2) guru sebagai pembimbing, dan (3) guru sebagai administrator kelas. Sejalan dengan Peters, Amstrong dalam Nana Sudjana (1989:15) membagi tugas dan tanggung jawab guru menjadi lima ketegori, yaitu: (1) tanggung jawab dalam pengajaran; (2) tanggung jawab dalam memberikan bimbingan; (3) tanggung jawab dalam mengembangkan kurikulum; (4) tanggung jawab dalam mengembangkan profesi, dan (5) tanggung jawab dalam membina hubungan dengan masyarakat.

Tanggung jawab dalam mengembangkan profesi pada dasarnya ialah tuntutan dan panggilan untuk selalu mencintai, menghargai, menjaga dan meningkatkan tugas dan tanggung jawab profesinya. Guru harus sadar bahwa tugas dan tanggung jawabnya tidak bisa dilakukan orang lain, kecuali oleh dirinya. Demikain pula ia harus sadar bahwa dalam melaksanakan tugas selalu dituntuk untuk bersungguh-sungguh dan bukan pekerjaan sambilan. Guru harus sadar bahwa yang dianggap baik dan benar saat ini, belum tentu benar di masa yang akan datang. Oleh karena itu guru dituntuk agar selalu meningkatkan pengetahuan, kemampuan dalam rangka pelaksanaan tugas profesinya, ia harus peka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi khususnya dalam bidang perndidikan dan pada masyarakat pada umumnya.

Dunia ilmu pengetahuan tak pernah dan akan selalu muncul hal-hal yang baru. Guru harus dapat mengikuti perkembangan tersebut. Sehingga ia harus lebih dahulu mengetahuinya daripada siswa dan masyarakat pada umumnya. Di sinilah letaknya pengembangan profesi yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya. Tanggung jawab dalam membina hubungan dengan masyarakat berarti guru harus berperan menempatakan sekolah sebagai bagian integaral dari masyarakat serta sekolah sebagai pembaharu masyarakat. Pendidikan bukan hanya tanggung jawab guru dan pemerintah saja, tetapi juga tanggung jawab masyarakat. Untuk itu guru dituntuk untuk dapat meningkatkan pendidikan dan pengajaran di sekolah. Sebagai bagian dari tugas dan tanggung jawab profesinya, guru harus dapat membina hubungan baik dengan masyarakat.

Pemerintah sering melakukan upaya untuk meningkatkan kualitas guru, antara lain, melalui seminar, pelatihan, dan lokakarya, bahkan melalui pendidikan formal bahkan dengan menyekolahkan guru pada tingkat yang lebih tinggi. Kendatipun dalam pelaksanaannya masih jauh dari harapan, dan banyak penyimpangan, namun paling tidak telah menghasilkan suatu kondisi yang menunjukkan bahwa sebagian guru memiliki ijazah perguruan tinggi.

Latar belakang pendidikan ini mestinya berkorelasi positif dengan kualitsa pendidikan, bersamaan dengan faktor lain yang mempengaruhi. Walaupun dalam kenyataannya banyak guru yang melakukan kesalahan-kesalahan. Kesalahan-kesalahan yang seringkali tidak disadari oleh guru dalam pembelajaran ada tujuh kesalahan. Kesalahan-kesalahan itu antara lain: (1) mengambil jalan pintas dalam pelajaran; (2) menunggu peserta didik berperilaku negatif; (3) menggunakan destructive discipline; (4) mengabaikan kebutuha-kebutuhan khusus (perbedaan individu) peserta didik; (5) merasa diri paling pandai di kelas; (6) tidak adil (diskriminatif); (7) memaksakan hak peserta didik. (Mulyasa, 2005:20)

Untuk mengatasi kesalahan-kesalahan tersebut, maka seorang guru yang profesional harus memiliki empat kompetensi. Kompetensi tersebut tertuang dalam Undang-Undang Dosen dan Guru, yaitu:

  1. Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik;
  2. Kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik;
  3. Kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pelajaran luas mendalam;
  4. Kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisian dengan peserta didik, sesama guru, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.

Nana Sudjana (1989:17) menjelaskan bahwa perbedaan pokok antara profesi guru dengan profesi lainnya terletak dalam tugas dan tanggung jawabnya. Tugas dan tanggung jawab tersebut erat kaitannya dengan kemampuan yang disyaratkan untuk memangku profesi tersebut. Kemampuan dasar tersebut antara lain ialah kompetensi guru, yakni: (1) mempunyai pengetahuan tentang belajar dan tingkah laku manusia; (2) mempunyai pengetahuan dan menguasai bidang studi yang dibinanya; (3) mempunyai sikap yang tepat tentang diri, sekolah, teman sejawat, dan bidang studi yang dibinanya, dan (4) mempunyai keterampilan teknik mengajar.

Bertolak dari pendapat tersebut di atas, maka kompetensi guru dapat dibagi menjadi tiga bidang, yaitu:

  1. Kompetensi bidang kognitif, artinya kemampuan intelektual, seperti penguasaan mata pelajaran, pengetahuan mengenai cara mengajar, pengetahuan mengenai belajar dan tingkah laku individu, pengetahuan tentang bimbingan penyuluhan, pengetahuan tentang administrasi kelas, pengetahuan tentang cara menilai hasil belajar siswa, pengetahuan tentang kemasyarakatan serta pengetahuan umum lainnya.
  2. Kompetensi bidang sikap, artinya kesiapan dan kesediaan guru terhadap berbagai hal yang berkenaan dengan tugas dan profesinya. Misalnya sikap menghargai pekerjaannya, mencintai dan memiliki perasaan senang terhadap mata pelajaran yang dibinanya, sikap toleransi terhada sesama teman profesinya, memiliki kemauan yang keras untuk meningkatkan hasil pekerjaannya.
  3. Kompetensi perilaku/performance, artinya kemampuan guru dalam berbagai keterampilan/perilaku, seperti keterampilan mengajar, membimbing, menilai, menggunakan alat bantu pengajaran, bergaul atau berkomunikasi dengan siswa, keterampilan menumbuhkan semangat belajar para siswa, keterampilan menyusun persiapan/perencanaan mengajar, keterampilan melaksanakan administrasi kelas, dan lain-lain.

Lebih lanjut, Sardiman A.M. (1992:161) berpendapat bahwa, profesi kemampuan dasar seorang guru harus memenuhi sepuluh kompetensi dasar, yakni: (1) menguasai bahan; (2) mengelola program; (3) mengelola kelas; (4) menggunakan media/sumber; (5) menguasai landasan pendidikan; (6) mengelola interaksi belajar mengajar; (7) menilai prestasi untuk kepentingan pengajaran; (8) mengenal fungsi dan program layanan bimbingan dan penyuluhan; (9) mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah, dan (10) memahami prinsip dan hasil penelitian pendidikan guna keperluan pengajaran.

Sedangkan Muhammad Ali (2000:7) berpendapat bahwa, di dalam melaksanakan proses belajar mengajar, guru dituntut untuk memiliki berbagai keterampilan yang bertalian dengan jawaban terhadap suatu pertanyaan, yakni bagaimana menyelenggarakan pengajaran yang dapat mengantarkan siswa mencapai tujuan yang direncanakan. Pertanyaan tersebut menuntun kepada terpenuhinya berbagai persyaratan yang perlu dimiliki oleh seorang guru, sehingga dapat melaksanakan tugas dengan berhasil. Persyaratan-persyaratan itu meliputi: (1) penguasaan materi pelajaran; (2) kemampuan menerapkan prinsip-prinsip psikologi; (3) kemampuan menyelenggarakan proses belajar mengajar, dan (4) kemampuan menyesuaikan diri dengan berbagai situasi baru.

Sikap dikatakan sebagai suatu respon evaluatif. Respon hanya akan timbul, apabila indivifu dihadapkan pada suatu stimulus yang dikehendaki adanya reaksi individual. Respon evaluatif berarti bahwa bentuk reaksi yang dinyatakan sebagai sikap itu timbul didasari oleh proses evaluasi dalam diri individu yang memberi kesimpulan terhadap stimulus dalam bentuk nilai baik buruk, positif negatif, menyenangkan tidak menyenangkan, yang kemudian mengkristal sebagai potnsi reaksi terhadap obyek sikap. (Azwar, 2000:15).

Sedangkan perilaku merupakan bentuk tindakan nyata seseorang sebagai akibat dari adanya aksi respon dan reaksi. Menuru Mann dalam Azwar (2000) sikap merupakan predisposisi evaluatif yang banyak menentukan bagaimana individu bertindak, akan tetapi sikap dan tindakan nyata seringkali jauh berbeda. Hal ini dikarenakan tindakan nyata tidak hanya ditemukan oleh sikap semata namun juga ditentukan faktor eksternal lainnya.

Menurut penuturan R. Tantiningsih, ada beberapa upaya yang adapat dilakukan agar beberapa sikap dan perilaku menyimpang dalam dunia pendidikan dapat dihindari, di antaranya: pertama, menyiapkan tenaga pendidikan yang benar-benar profesional yang dapat menghormati siswa secara utuh. Kedua, guru merupakan key succes dalam keberhasilan budi pekerti. Dari guru siswa dapat mendapatkan action exercise dari pembelajaran yang diberikan. Guru sebagai panutan hendaknya menjaga image dalam bersikap dan berperilaku. Ketiga, budi pekerti dijadikan mata pelajaran khusus di sekolah. Keempat, adanya kerjasama dan interaksi yang erat antara siswa, guru (sekolah), dan orang tua.

Terkait dengan hal tersebut, hasil temuan dari Universitas Havard bahwa 85 % dari sebab kesuksesan, pencapaian sasaran, promosi jabatan, dan lain-lain adalah karena sikap-sikap seseorang. Hanya 15 % disebabkan oleh keahlian atau kompetensi teknis yang dimiliki. (Ronnie, 2005:62).

Namun sayangnya justru kemampuan yang bersifat teknis ini yang menjadi primadona dalam institusi pendidikan yang dianggap modern sekarang ini. Bahkan kompetensi teknis ini dijadikan basis utama dari proses belajar mengajar. Jelas hal ini bukan merupakan solusi, bahkan akan membuat permasalahan semakin menjadi. Semakin menggelembung dan semakin sulit diatasi.

Menurut Danni Ronnie M. ada enam belas pilar agar guru dapat mengajar dengan hati. Keenam belas pilar tersebut menekankan pada sikap dan perilaku pendidik untuk mengembangkan potensi peserta didik. Enam belas pilar pembentukan karakter  yang harus dimiliki seorang uru, antara lain: (1) kasih sayang; (2) penghargaan; (3) pemberian ruang untuk mengembangkan diri; (4) kepercayaan; (5) kerjasama; (6) saling berbagi; (7) saling memotivasi; (8) saling mendengarkan; (9) saling berinteraksi secara positif; (10) saling menanamkan nilai-nilai moral; (11) saling meningatkan dengan ketulusan hati; (12) saling menularkan antusiasme; (13) saling menggali potensi diri ; (14) saling mengajari dengan kerendahan hati; (15) saling menginspirasi; (16) saling menghormati perbedaan.

Jika para pendidik menyadari dan memiliki menerapkan 16 pilar pembangunan karakter tersebut jelas akan memberikan memberikan sumbangsih yang luar biasa kepada masyarakat dan negaranya.

Dengan demikian sikap dan perilaku guru yang telah diuraikan di atas, merupakan gambaran mengenai sikap dan perilaku guru teladan yang menjadi dambaan setiap orang terutama siswa dan orang tua siswa.

3. Sikap Profesionalisme Guru yang Menyimpang

Sebuah istilah yang menjadi slogan guru sebagai cerminan bagi anak didik “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”, memberikan pesan moral kepada guru agar bertindak dengan penuh pertimbangan. Ketiga guru menanamkan nilai dan contoh karakter dan sifat yang tidak baik, maka jangan salahkan murid ketika berperilaku lebih dari apa yang guru lakukan. Seperti kelakuan bejat guru ketika membocorkan jawaban Ujian Nasional sebagai upaya menolong kelulusan anak didiknya. Memang murid pada saat itu senang, karena mendapatkan jawaban untuk mempermudah mereka lulus. Akan tetapi, saat itu juga guru telah menanamkan ketidakpercayaan murid terhadap guru. Dan pada saatnya nanti mereka akan jauh lebih berbuat lebih bejat lagi ketimbang saat ini yang guru lakukan.

Guru yang profesinya sangat mulia, pendidik nurani bangsa idealnya senantiasa ditiru dan di-gugu oleh anak didik dan masyarakat. Kalaulah apa yang dilakukan oleh guru dan pihak sekolah adalah tindakan keterpaksaan yang diperintah oleh kepala dinas pendidikan atau kepala daerah mungkin itu masih lumayan. Tapi demi menaikkan gengsi sekolah, demi menutupi kebodohan mengajar dengan membantu anak didik agar lulus, apakah itu pelecehan dan pembunuhan terhadap potensi anak didik? Dan di mana hati nurani guru sebagai teladan? Bukankah ini merupakan perilaku memberikan contoh kejahatan, dan tindakan seperti itu menambahkan benih potensi tindakan korupsi.

Mental korupsi telah dibentuk oleh guru sejak generasi bangsa duduk di bangku sekolah. Parahnya lagi, yang membentu karakter itu adalah guru mereka sendiri. Padahal seyogyanya guru lah yang mempunyai peran sentral untuk membersihkan mental koruptor dalam jiwa anak didik. Guru adalah tempat strategis untuk membentuk kepribadian anak bangsa. Jika karakter guru mengarah pada hal buruk, maka anak didik yang terbentuk pun akan tidak jauh dari karakter guru. Tapi sebaliknya, kebiasaan memberikan bocoran jawaban kepada anak didik, berarti telah mengajarkan anak didik untuk korupsi. Kelak ketika anak didik itu menjadi pemimpin, maka tidak menutup kemungkinan dia akan membocorkan dana atau kebijakan lainnya.

Pendidikan merupakan upaya mencerdaskan anak bangsa. Berbagai upaya pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan telah dilaksanakan walaupun belum menunjukkan hasil yang optimal. Pendidikan tidak bisa lepas dari siswa atau peserta didik. Siswa merupakan subyek didik yang harus diakui keberadaannya. Berbagai karakter siswa dan potensi dalam dirinya tidak boleh diabaikan begitu saja. Tugas utama guru mendidik dan mengembangkan berbagai potensi itu.

Bagaimana sebenarnya guru masa depan seperti yang diidamkan oleh banyak pihak, antara lain:

  1. Planner, artinya guru memiliki program kerja pribadi yang jelas, progam kerja tersebut tidak hanya berupa program rutin, misalnya menyiapkan seperangkat dokumen pembelajaran seperti Program Semester, Satuan Pelajaran, LKS, dan sebagainya. Akan tetapi guru harus merencanakan bagaimana setiap pembelajaran yang dilakukan berhasil maksimal, dan tentunya apa dan bagaimana rencana yang dilakukan, dan sudah terprogram secara baik;
  2. Inovator, artinya memiliki kemauan untuk melakukan pembaharuan dan pembaharuan dimaksud berkenaan dengan pola pembelajaran, termasuk di dalamnya metode mengajar, media pembelajaran, sistem dan alat evaluasi, serta nurturant effect lainnya. Secara individu maupun bersama-sama mampu untuk merubah pola lama, yang selama ini tidak memberikan hasil maksimal, dengan perubahan kepada pola baru pembelajaran, maka akan berdampak kepada hasil yang maksimal;
  3. Motivator, artinya guru masa depan mampu memiliki motivasi untuk terus belajar dan belajar, dan tentunya juga akan memberikan motivasi kepada anak didik untuk belajar dan terus belajar sebagaimana yang dicontohkan gurunya;
  4. Capable personal, maksudnya guru diharapkan memiliki pengetahuan kecakapan dan keterampilan serta sikap yang lebih mantap dan memadai sehingga mampu mengelola proses pembelajaran secara efektif;
  5. Developer, artinya guru mau untuk terus mengembangkan diri, dan tentunya mau pula menularkan kemampuan dan keterampilan kepada anak didiknya dan untuk semua orang. Guru masa depan haus akan menimba keterampilan, dan berikap peka terhadap perkembangan IPTEK, misalnya mampu dan terampil mendayagunakan komputer, internet, dan berbagai model pembelajaran multimedia.

Jadi, guru masa depan adalah guru bertindak sebagai fasilitator, pelindung, pembimbing, dan punya figur yang baik (disiplin, loyal, bertanggung jawab, kreatif, melayani sesuai dengan visi, misi yang diinginkan sekolah), termotivasi menyediakan pengalaman belajar bermakna untuk mengalami perubahan belajar berdasarkan keterampilan yang dimilki siswa dengan berfokus menjadikan kelas yang kondusif secara intelektual fisik dan sosial untuk belajar, menguasai materi, kelas dan teknologi, punya sikap berciri khas serta pendekatan humanis terhadap siswa; guru menguasai komputer, bahasa, dan psikologi mengajar untuk diterapkan di kelas secara proporsional. Diberlakukan skema reward dan penegakan disiplin yang humanis terhadap guru dan karyawan.

Guru masa depan juga memiliki kemampuan untuk mengembangkan kemampuan para ssiwanya melalui pemahakan, keaktifan, pembelajaran sesuai kemajuan zaman dengan mengembangkan keterampilan hidup agar siswa memiliki sikap kemandirian, perilaku adaptif, koperatig, kompetitif dalam menghadapi tantangan, tuntutan kehidupan sehari-hari. Secara efektik menunjukkan motivasi, percaya diri serta mampu mandiri dan dapat bekerja sama. Selain itu guru masa depan juga dapat menumbuhkembangkan sikap, disiplin, bertanggung jawab, memiliki etika moral, dan memiliki sikap kepedulian yang tinggi, dan memupuk kemampuan otodidak anak didik, memberikan reward ataupun apresiasi terhadap siswa agar mereka bangga akan sekolahnya dan terdidik juga untuk mau menghargai orang lain baik pendapat maupun prestasi. Kerendahan hati juga perlu dipupuk agar tidak terlalu overmotivated sehingga menjadi congkak. Diberikan pelatihan berpikir kritis dan strategi belajar dengan manajemen waktu yang sesuai serta pelatihan cara pengendalan emosi agar IQ, EQ, dan kedewasaan sosial siswa berimbang.

Selain itu, guru masa depan juga harus memiliki keterampilan dasar pembelajaran, kualifikasi keilmuannya juga optimal, performance di kelas maupun luar kelas tidak diragukan. Tentunya sebagai guru masa depan bangga dengan profesinya, dan akan tetap setia menjunjung tinggi kode etik profesinya.

Oleh sebab itu, untuk menjdi guru masa depan diperlukan kualifikasi khusus, dan barangkali akan terlepad dari relung hati dan sanubarinya, bahwa mereka memilih profesi guru sebagai pemilih utama dan pertama.

4. Faktor Penyebab Sikap Profesionalisme Guru yang Menyimpang

Pendidikan merupakan upaya untuk mencerdaskan anak bangsa. Berbagai upaya pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan telah dilaksanakan walaupun belum menunjukkan hasil yang optimal. Pendidikan tidak bisa lepas dari siswa atau peserta didik. Siswa merupakan subyek didik yang harus diakui keberadaannya. Berbagai karakter siswa dan potensi dalam dirinya tidak boleh diabaikan begitu saja. Tugas utama guru mendndi dan mengembangkan potensi itu.

Jika ada pendidik (guru) yang sikap dan perilakunya menyimpang karena dipengaruhi beberapa faktor. Pertama, adanya malpraktek (meminjam istilah Prof. Mungin) yaitu melakukan praktek yang salah, miskonsep. Guru salah dalam menerapkan hukuman pada siswa. Apapun alasannya tidakan kekerasan maupun pencabulan guru terhadap siswa merupakan suatu pelanggaran.

Kedua, kurang siapnya guru maupun siswa secara fisik, mental, maupun emosional. Kesiapan fisik, mental, dan emosional guru maupun siswa sangat diperlukan. Jika kedua belah pihak siap secara fisik, mental dan emosional, proses belajar mengajar akan lancar, interaksi siswa dan guru akan terjalin harmonis layaknya orang tua dengan anaknya.

Ketiga, kurangnya penanaman budi pekerti di sekolah. Pelajaran budi pekerti sekarang ini sudah tidak ada lagi. Kalaupun ada sifatnya hanya sebagai pelengkap, lantaran diintegrasikan dengan berbagai mata pelajaran yang ada. Namun realits di lapangan pelajaran yang didapat siswanya kebanyakan hanya dijejali berbagai materi, sehingga nilai-nilai budi pekerti yang harus diajarkan justru dilupakan.

Selain dari ketiga faktor di atas, juga dipengaruhi oleh tipe-tipe kejiwaan seperti yang diungkapkan Plato dalam “Tipologo Plato” , bahwa fungsi jiwa ada tiga, yaitu: pikiran, kemauan, dan perasaan. Pikiran berkedudukandi kepala, kemauan berkedudukan di dada, dan perasaan berkedudukan di dalam tubuh bagian paling bawah. Atas perbedaan tersebut Plato juga membedakan bahwa pikiran itu sumber kebijaksanaan, kemauan, sumber keberanian, dan perasaan sumber kekutan menahan hawa nafsu.

Jika pikira, kemauan, dan perasaan tidak sinkron akan timbul permasalahan. Perasaan tidak akan dapat mengendalikan hawa nafsu, akibatnya kemauan tidak terkendali dan pikiran tidak akan berpikir biak. Agar pendidikan di Indonesia berhasil, paling tidak pendidik memahami faktor-faktor tersebut. Kemudian mengantisipasinya dengan baik. Sehingga kesalahan-kesalahan guru dalam sikap dan perilaku dihindari.

Bagaimanapun juga kualitas pendidikan di Indonesia harus mampu bersaing di dunia internasional. Sikap dan perilaku profesional seorang pendidik akan mampu membawa dunia pendidikan lebih berkualitas.

Dengan demikain diharapkan mampu mewujudkan tujuan pendidikan nasional Indonesia yanti membentuk nanusia seutuhnya.

B.  Supervisi Klinis

1.  Pengertian Supervisi Klinis

Supervisi diartikan sebagai pengawasan utama, pengontrolan tertinggi. (Anton M. Moeliono. Dkk., 1993:872). Di dalam Pedoman Pelaksanaan Supervisi Pendidikan Agama, supervisi adalah suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif. (Dirjen Bimbingan Islam Depag RI, 2003:3).

Sedangkan supervisi klinis diartikan sebagai supervisi yang dilakukan oleh supervisor yang atas dasar formal dan perofesionalnya melakukankegiatan supervisi terhadap petugas pelaksanaan di bawhnya yang mengalami masalah-masalah nonakademik, seperti faktor psikologis, kesulitan berkomunikasi, dan lain-lain yang sulit diatasi sendiri. (Dirjen Bimbingan Islam Depag RI, 2003:3). Richard Waller dalam Ahmad Azhari (2003) berpendapat bahwa supervisi klinis adalah supervisi yang difokuskan pada perbaikan pengajaran dengan melalui siklus sistematis dari tahap perencanaan, pengamatan, dan analisis intelektual yang intensif terhadap penampilan mengajar sebenarnya dengan tujuan untuk mengadakan modifikasi yang rasional. Acheson dan Gall dalam Azhar (2003) berpendapat bahwa, supervisi adalah proses membantu guru memperkecil ketidaksesuaian (kesenjangan antara tingkah laku mengajar yang nyata dengan tingkah laku mengajar yang ideal. (Ahmad Azhar, 2003:18-19).

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa supervisi klinis merupakan proses bimbingan yang bertujuan meningkatkan profesionalitas guru, dengan penekanan pada penampilan mengajar, melalui prosedur yang sisematis yang dimulai dari pertemuan pendahuluan, observasi kelas, dan pertemuan balikan guna mendapatkan perubahan tingkah laku mengajar yang diharapkan. Dengan kata lain supervisi klinis yaitu pelaksanaan supervisi yang berpusat kepada penampilan guru mengajar.

2. Tujuan Supervisi Klinis

Tujuan supervisi klinis adalah untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar dengan memfokuskan pada perbaikan penampilan guru mengajar di kelas secara lebih rinci dan spesifik.

Tujuan supervisi klinis menurut Acheson dan Gall adalah sebagai berikut:

  1. Memberikan gambaran secara obyektif kepada guru mengenai penampilan mengajar yang nyata. Supervisi klinis dapat diibaratkan sebuah cermin bagi guru, sehingga mereka dapat melihat kondisi penampilan mengajarnya yang sebenarnya di depan kelas.
  2. Mengdiagnosis dan memecahkan permasalah pengajaran. (Ahmad Azhar, 2003:19).

Supervisi klinis menggunakan teknik pertemuan dan catatan observsi dalam membatu guru melihat ketidaksesuaian/penyimpangan dari yang seharusnya (penampilan mengajar ideal). Pada akhirnya guru diharapkan dapat melakukan diagnosis sendiri tentang ketidaksesuaian perilaku mengajarnya tanpa harus dibantu supervisor. Namun hal ini bukan berarti sudah tidak membutuhkan lagi bantuan supervisor. Pada saat dan aspek tertentu guru tetap memerlukan campur tangan supervisor.

3. Pelaksanaan Supervisi Klinis

Tahap-tahap pelaksanaan supervisi klinis dapat juga disebut dengan siklus, karena tahapan-tahapan ini merupakan proses yang berkelanjutan. Supervisi klinis dilaksanakan melalui tiga tahapan, yaitu:

a. Pertemuan Pra Pengamatan

Pertemuan pra pengamatan adalah pertemuan yang dilakukan oleh supervisor dengan orang yang disupervisi sebagai kegiatan pendahuluan. Dalam pertemuan pra pengamatan ini dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut:

1)   Supervisi bersama dengan orang yang disupervisi, mulai membirakan rencana mengajar pada hari itu. Apa yang akan disajikan, bagaimana ia menyajikan bahan, sejauh mana siswa dilibatkan dalam kegiatan belajar mengajar, bagaimana guru mengetahui proses dan hasil siswa dan seterusnya.

2)   Ada kesepakatan antara supervisor dengan yang disupervisi untuk memusatkan perhatian/pengamatan pada salah satu komponen pengajaran, misalnya keterlibatan siswa dalam proses belajara mengajar.

3)   Diadakan kesepakatan mengenai bagaimana sebaiknya supervisor merekam atau mencatat hasil pengamatannya.

4)   Karena tujuan supervisi klinis adalah membantu seseorang yang disupervisi, maka supervisi klinis bersifat terbuka. Artinya orang yang akan disupervisi berhak untuk mengetahui apa saja yang akan diamati selama yang bersangkutan melaksanakan tugas mengajar di kelasnya.

b. Pelaksanaan Pengamatan

Dalam kegiatan supervisi klinis yang akan ditujukan kepada guru, ada tiga kemungkinan pemusatan perhatian, yaitu: guru, siswa, atau interaksi siswa. Kegiatan guru yang mendapat fokus pengamatan, antara lain ialah bagaimana memulai tugasnya. Adakah kegiatan appersepsi, memancing pengetahuan siswa yang akan dipergunakan untuk memahami bahan ajaran baru? Bagaimana guru memberikan respon terhadap siswanya? Adakah ia mendukung terjadinya proses belajar siswa, atau bahkan menimbulkan kecil hati siswa, membunuh inisiatif atau kreatifitas siswa dan seterusnya.

Dalam proses belajar mengajar akan tampak apakah guru yang mendominasi kelas atau siswa yang lebih aktif? Seberapa banyak teknik bertanya yang mendorong siswa berpikir, mencari jalan untuk menyelesaikan masalah.

Jika pusa terhatian pengamatan ditujuan terhadap siswa, maka supervisor dapat mencatat beberapa banyak siswa memberikan respon terhadap pertanyaan atau pertanyaan guru. Hal lain yang dapat diamati dari siswa ialah berapa banyak waktu yang diperlukan untuk melaksanakan tugas-tugas belajar, seperti membaca, berdiskusi, mencatat, membuat soal dan sebagainya. Mungkin sekalin dapat diamati adanya seorang siswa di kelas yang lebih banyak tidak mengikuti pelajaran, tetapi melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat, misalnya bercakap-cakap (ngobrol, bercanda), dan sebaginya. Selama pelajaran berlangsung, dalam kaitan ini apakah guru memperhatikannay atau ia asyik dengan siswa yang tekun dan rajin belajar dan tidak peduli terhadap yang lainya.

Selanjutanya pengamatan juga sangat penting dilakukan adalah pengamatan terhadap interaksi yang terjadi antara guru dan siswa dan antara siswa dengan siswa lainnya selama pelajaran berlangsung. Interaksi tersebut ada yang tidak direncanakan dan ada yang direncanakan. Yang dimaksud dengan interaksi yang tidak direncanakan ialah bentuk reaksi siswa terhadap penjelasan guru atau tehadap respon seorang siswa yang lain sebagai tanggapan dari pertanyaan guru. Lain halnya kalau siswa dibagi dalam kelompok-kelompok kecil untuk menyelesaikan suatu tugas atau mendiskusikan suatu topik. Kerja kelompok semacam ini memberikan kesempatan yang besar kepada siswa untuki berinteraksi, namun ada kalanya dapat diamati bahwa satu dua sisa tetap saja pasif dalam kelompok kerja tersebut. Dalam hal ini perlu diamati bagaimana sikap guru terhadap siswa yang demikian.

c. Pertemuan Pasca Pengamatan

Selesai pengamatan di ruang kelas, supervisor akan bertemu dengan guru yang sudah diamati. Pertemuan akhir ini sangat berguna bagi kedua belah pihak, baik guru maupun supervisor sendiri.

Pada bagian awal telah disebutkan kesepakatan yang dicapai pada pertemuan pendahuluan (pra pengamatan) akan dijadikan titik tolah pembahasan antara supervisor dengan guru yang diamati tersebut. Pembicaraan akan berkisar pada hasil pengamatan yang terpusat pada komponen-komponen yang disetujui sebelumnya.

Ada beberapa komponen yang setidaknya dapat dibahas dalam pertemuan pasca pengamatan. Komponen-komponen tersebut berkaitan dengan perencanaan dan persiapan mengajar, pendekatan yang diterapkan dalam pelaksanaan pengajaran, mempertimbangkan berbagai faktor situasional kelas pada waktu diamati dan pengakuan terhadap kemampuan-kemampuan pribadi yang sempat diamati. Supervisi klinis adalah satu bentuk kegiatan supervisi yang dilakukan oleh pengawas. Karena bentuknya yang monoakademik, maka setiap pengawas perlu memiliki keterampilan-keterampilan tertentu dalam melaksanakan supevisi klinis ini.

Adapun keterampilan-keterampilan yang dimaksudkan antara lain:

1)    Membentuk kerangka;

2)    Memusatkan perhatian kepada guru;

3)    Memusatkan perhatian kepada siswa;

4)    Memustkan perhatian kepada interaksi;

5)    Mengkonsolidasikan analisi awal, dan

6)    Manajerial.

Tujuan supervisi klinis adalah untuk mengingkatakan profesionalitas guru dengan penekanan pada perbaikan penampilan mengajar. Sehubungan dengan tujuan supervisi klinis tersebut, maka sasarannya adalah penampilan mengajar guru. Penampilan mengajar dapat dilihat dari aktualisasi aspek-aspek keterampilan yang dintujukkan oleh guru ketika melakukan proses belajar mengajar.

Untuk memberikan gambaran yang lebih kokret tentang aspek-aspek sasaran supervisi, sebagai berikut:

1)   Siasat membuka dan menutup pelajaran;

2)   Kefasihan bertanya;

3)   Keterampilan menerangkan;

4)   Fariasi stimulus;

5)   Dorongan terhadap partisipasi sisws;

6)   Ilustrasi dan menggunakan contoh-contoh;

7)   Pengasaan kelas;

8)   Keterampilan berkomunikasi;

9)   Memberikan penguatan (reinforcement).

Berdasarkan uraian singkat di atas maka dapat diperjelas sebagai berikut: peranan supervisor selaku pengamat kegiatan supervisi klinis adalah keterampilan membentuk kerangka yang komponen-komponennya adalah membahas rencana pengajaran, bersepakat, mengenai fokus perhatiam, menentukan sarana perekaman dan sebagainya sebagai suatu kegiatan awal atau pertemuan pra pengamatan.

Sedangakan keterampilan memfokuskan perhatian pada guru, siswa, dan interaksi merupakan kegiatan dalam pelaksanaan pengamatan yang komponen-komponennya antara lain adalah pengidentifikasian kegiatan, petnabulasian tanggapan, pencatatan waktu pelaksanaan tugas, pencatatam saling pengertian, peranan, pengamatan pada komunikasi antara siswa dan pemantauan strategi.

Adapun dalam pertemuan pasca pengamatan diperlukan keterampilan mengkonsolidasikan analisi awal yang komponen-komponennya adalah penilaian terahadap perencanaan dan persiapan, memperhitungkan pendekatan, metode dan teknik belajar mengajar, mempertimbangkan faktor-faktor situasional dan pengakuan terhadap potensi pribadi.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 2-5 Bangsri. Berdasarkan waktu yang telah ditentukan serta instrumen pengamatan (observasi pelaksanaan supervisi) yang telah disiapkan, peneliti segera melaksanakan tindakan dengan dibantu oleh kepala SD Negeri 2-5 Bangsri Kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara dan guru sebagai observator.

B. Perencanaan Tindakan

Prosedur tindakan penelitian didahului terlebih dahulu melakukan tindakan prasiklus dengan malaksanakan penilaian terhadap kegiatan belajar guru sebelum kegiatan supervisi dilaksanakan. Adapun rencana penelitian ditetapkan dengan rincian waktu sebagai berikut:

  1. Pada hari Senin, tanggal 2 Maret 2009 melakukan tindakan siklus I, yaitu pertemuan Prapengamatan terhadap guru kelas;
  2. Pada hari Selasa, tanggal 3 Maret 2009 melanjutkan tindakan siklus I, yaitu melaksanakan supervisi kunjungan kelas terhadap 3 guru kelas selama 6 jam pelajaran (tiap guru kelas 2 jam pelajaran);
  3. pada hari Selasa, tangal 10 Maret 2009 melanjutkan tindakan siklus I, yaitu melaksanakan supervisi kunjungan kelas terhadap 3 guru kelas selama 6 jam pelajaran (tiap guru kelas 2 jam pelajaran);
  4. pada hari Senin, 16 Maret 2009 melaksanakan tindakan siklus II, yaitu melaksanakan kunjungan kelas yang kedua pada siklus I kepada 3 guru kelas selama 6 jam pelajaran (tiap guru 2 jam pelajaran);
  5. pada hari Selasa, 17 Maret 2009 melaksanakan tindakan siklus II, yaitu melaksanakan kunjungan kelas yang kedua pada siklus I kepada 3 guru kelas selama 6 jam pelajaran (tiap guru 2 jam pelajaran);
  6. pada hari Kamis, 19 Maret 2009 melaksanakan tindakan siklus II, yaitu melaksanakan pasca pengamatan terhadap 6 guru kelas.

Dalam penelitian tindakan sekolah ini subyek yang menjadi sasaran penelitian yaitu kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran (sikap profesional guru dalam mengajar). Responden penelitian ini adalah guru kelas SD Negeri 2-5 Bangsri Kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara tahun pelajaran 2008/2009 dengan jumlah responden 6 guru kelas.

C. Prosedur Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan oleh peneliti yaitu penelitian tindakan sekolah yang lazim disebut PTS. Dengan demikian penelitian ini sifatnya berbasis sekolah karena dilakukan dengan melibatkan komponen yang terdapat di dalam penyelenggaraan pembelajaran di sekolah meliputi: guru, siswa, materi pembelajaran, dan teknik pembelajaran.

Tujuan penelitian ini tidak lain adalah untuk meningkatkan kemampuan/sikap profesionalisme guru dalam melaksanakan pembelajran. Diharapkan dari penelitian ini kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran dapat meningkatkan yang pada akhirnya dapat berdampak pada peningkatan hasil belajar secara maksimal.

Terdapat empat tahapan yang digunakan secara sistematis dalam proses penelitian ini dan diterapkan dalam dua siklus yaitu siklus I dan proses tindakan siklus II. Keempat tahapan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Proses Tindakan Siklus I

Proses penelitian tindakan sekolah dalam siklus I terdiri atas empat tahap, yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Peroses penelitian tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Perencanaan

Tahap ini dimulai dengan refleksi awal. Kegiatan ini dimulai dengan pemikiran terhadap hasil tindakan pra siklus I yaitu penilaian kemampuan mengajar guru sebelum diadakan tindakan supervisi klinis.

Langkah proses kegiatan pengajaran guru antara lain: persiapan jadwal alokasi waktu mengajar, persiapan mengajar, pencatatan analisis hasil belajar, dan memecahkan kesulitan yang dihadapi siswa.

b. Tindakan

Tindakan yang dilakukan peneliti dalam tahap ini secara garis besar adalah melaksanakan supervisi klinis terhadap guru kelas yang meliputi 3 tahap, yaitu: tahap persiapan mengajar, pelaksanaan pengajaran, dan evaluasi.

Tahap persiapan mengajar yaitu  persiapan alat, media dan materi pelajaran. Kegiatan yang dilakukan pada tahap persiapan berupa kegiatan pembukaan dengan salam dan doa, mengabsen siswa, menanyakan pelajaran yang lalu kepada siswa dan menanyakan permasalahan-permasalahan  yang dihadapi siswa.

Tahap pelaksanaan yaitu tahap melakukan kegiatan pembelajaran/kegiatan belajar mengajar dan diakhiri dengan post test.

c. Pengamatan

Pengamatan atau sering disebut dengan observasi selama proses pembelajaran berlangsung. Pengamatan ini akan diungkap segala peristiwa yang berhubungan dengan pelaksanaan supervisi  klinis dan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar.

Dalam proses pengamatan ini data diperoleh melalui beberapa cara, antara lain: (1) penilaian terhadap persiapan mengajar guru, sebelum dan sesudah siklus I; (2) observasi kegiatan pembelajaran untuk mengetahui perilaku atau aktivitas guru selama kegiatan pembelarajan; (3) observasi pelaksanaan pembelajaran di kelas untuk mengetahui kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran serta semua perilaku guru dan siswa. Hal ini memperkuat data yang lain, yakni untuk memperjelas dan data pendukung data yang lain. Semua data tersebut nantinya dijelaskan dalam bentuk diskripsi secara lengkap.

d. Refleksi

Data berasal dari penilaian kunjungan kelas pada pra siklus menunjukkan bahwa kemampuan guru SD Negeri 2-5 Bangsri dalam pengajaran masih dalam kategori cukup baik dengan nilai rata-rata 68,82 %. Data yang berasal dari penilaian kunjungan kelas pada siklus I menunjukkan bahwa kemampuan guru dalam pembelajaran dalam kategori baik dengan nilai rata-rata 80,97 %. Pada siklus I ini memang terjadi peningkatan sebesar 12,15 % dari nilai rata-rata kemampuan mengajar pada pra siklus.

Untuk memperoleh nilai tiap aspek, nilai aspek persiapan pembelajaran sudah termasuk kategori baik dan nilai aspek kegitan belajar mengajar dalam kategori cukup baik. Oleh karena itu pada siklus II peneliti akan memperbaiki dengan memberikan pembinaan.

2. Proses Tindakan Siklus II

Proses tindakan siklus II merupakan kelanjutan dari siklus I. Perbaikan pada proses kunjungan kelas dan proses pembelajaran agar lebih serius lagi dan lebih ditingkatkan. Langkah-langkah siklus II adalah perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi.

a. Perencanaan

Langkah-langkah perencanaan antara lain: (1) persiapan pembelajaran; (2) kegiatan belajar mengajar, dan (3) penilaian.

b. Tindakan

Tindakan yang dilakukan peneliti dalam meneliti proses pelaksanaan pembelajaran sampai dengan sikap profesionalisme guru dalam melaksanakan proses pembelajaran pada siklus II ini sesuai tindakan dengan perencanaan yang telah disusun.

Tindakan yang akan dilakukan peneliti secara garis besar adalah melaksanakan kunjungan kelas lanjutan. Tindakan meliputi tiga tahap,yaitu tahap persiapan, tahap perlaksanaan dan tahap tindak lanjut.

Tahap persiapan adalah tahap mengkondisikan guru agar siap melaksanakan pembelajaran. Tahap pelaksanaan yaitu tahap melakukan kegiatan kunjungan kelas lanjutan.

c. Pengamatan

Pengamatan atau sering disebut dengan obervasi dilakukan selama proses kunjungan kelas berlangsung yang dilanjutkan dengan penilaian oleh masing-masing guru. Dalam pengamatan ini akan diungkapkan segala peristiwa yang berhubungan, baik aktivitas guru selama kegiatan belajar mengajar, maupun aktivitas siswa dalam kegiatan belajar mengajar.

Dalam pengamatan ini data diperoleh melalui beberapa cara, antara lain: (1) penilaian terhadap persiapan dan perencanaan pembelajaran serta peningkatannya setelah dilakukan selama dua siklus; (2) observasi atau kunjungan kelas selama KBM berlangsung untuk mengetahui perilaku dan aktivitas guru dan siswa; (3) observasi penilaian untuk mengetahui kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran serta peningkatannya setelah dilakukan dua siklus.

d. Refleksi

Refleksi diperoleh dengan memperhatikan hasil penilaian persiapan dan perencanaan pembelajaran pada siklus II. Data yang diperoleh dari penilaian dan observasi pada siklus II menunjukkan bahwa kemampuan persiapan dan perencanaan pembelajaran guru SD Negeri 2-5 Bangsri termasuk dalam kategori sangat baik dengan nilai rata-rata 91,17 % yang berarti telah terjadi kenaikan 10,39 % dari nilai rata-rata siklus I 80,78 % dan kemampuan melaksanakan pembelajaran di kelas sudah termasuk dalam kategori baik dengan nilai rata-rata  83,70 % yang berarti telah terjadi kenaikan 12,35 % daru nilai rata-rata siklus I sebesar 71,35 %. Pada siklus ini semua aspek sudah masuk dalam kategori baik dan nilai rata-rata sudah mengalami peningkatan.

3. Variabel Penelitian

Variabel yang diungkap dalam penelitian ini adalah sikap profesionalisme guru dalam melaksanakan proses pembelajaran melalui supervisi.

a. Peningkatan Sikap Profesionalisme Guru

Sikap Profesionalisme guru dalam melaksanakan pembelajaran merupakan kemampuan yang berkenaan dengan tampilan guru dan pengelolaan pembelajaran yang mendidik.

Terget peningkatan yang diharapkan adalah guru mampu mengelola kelas dengan baik, merencanakan pembelajaran dengan maik dan mampu tampil prima dalam proses pembelajaran. Peneliti menargetkan pada penelitian ini terjadi peningkatan kemampuan sikap profesionalisme guru dalam pembelajaran dengan kualifikasi baik. Penelitian ini dikatakan barhasil jika hasil penilaian guru dalam melaksanakan pembelajaran pada siklus I mencapai nilai rata-rata 55 – 74 sedangkan peneliti menargetkan hasil penilaian terhadap guru dalam proses pembelajaran dan pelaksanaan pembelajaran pada siklus II meningkat mencapai nilai 75.

b. Supervisi Klinis

Pembinaan profesional guru yang dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam melaksanakan tugas pokoknya tersebut menggunakan pendekatan supervisi klinis salah satu kegiatannya yaitu dengan mengadakan kunjungan kelas. Kegiatan kunjungan kelas merupakan kegiatan yang dilakukan oleh supervisor kepada guru pada saat sedang melaksanakan proses belajar mengajar di kelas.

Pelaksanaan supervisi klinis meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut: (1) supervisi persiapan pembelajaran; (2) supervisi kunjungan kelas; (3) supervisi pasca kunjungan kelas/penilaian proses pembelajaran.

4. Instrumen Penelitian

Penilaian yang digunakan untuk mengukur kemampuan guru dalam pembelajaran adalah memberikan guru dalam persiapan penilaian, pelaksanaan pembelajaran dan penilaian, pada semester genap tahun pelajaran 2008/2009.

Pada tabel 1 di bawah ini akan diuraikan skor maksimal tiap-tiap aspek.

No Aspek yang Dinilai Skor Maksimal
PERSIAPAN MENGAJAR
1. Perumusan tujuan 15
2. Penjabaran materi 20
3. Alat/bahan pelajaran 15
4. Langkah-langkah PBM/metode 20
5. Penilaian 15

Tabel 2: Skor penilaian perencanaan pembelajaran

Aspek yang Dinilai Unsur Penilaian/Kriteria Skor Kategori
Perumusan tujuan 1. Kejelasan rumusan 1, 2, 3, 4, 5 5 = sangat baik

4 = baik

3 = cukup baik

2 =kurang baik

1 = tidak baik

2. Kelengkapan cakupan rumusan 1, 2, 3, 4, 5
3. Kesesuaian dengan kompetensi dasar 1, 2, 3, 4, 5
Penjabaran materi 1. Kesesuaiann dengan tujuan pembelajaran 1, 2, 3, 4, 5
2. Kesesuaian dengan karakteristik peserta didik 1, 2, 3, 4, 5
3. Keruntutan dan sistematika materi 1, 2, 3, 4, 5
4. Kesesuaian dengan alokasi waktu 1, 2, 3, 4, 5
Alat/Bahan Pelajaran 1. Kesesuaian dengan tujuan pembelajaran 1, 2, 3, 4, 5
2. Kesesuaian dengan materi ajar 1, 2, 3, 4, 5
3. Kesesuaian dengan karakteristik peserta didik 1, 2, 3, 4, 5
Metode pembelajaran 1. Kesesuaian dengan tujuan pembelajaran 1, 2, 3, 4, 5
2. Kesesuaian dengan materi ajar 1, 2, 3, 4, 5
3. Kesesuaian dengan karaktersitik peserta didik 1, 2, 3, 4, 5
4. Kesesuaian dengan alokasi waktu 1, 2, 3, 4, 5
Penilaian hasil belajar 1. Kesesuaian teknik penilaian dengan tujuan pembelajaran 1, 2, 3, 4, 5
2. Kejelasan prosedur penilaian 1, 2, 3, 4, 5
3. Kelengkapan instrumen 1, 2, 3, 4, 5

Penilaian guru yang digunakan untuk mengukur kemampuan guru dalam pelaksanaan pembelajaran adalah supervisi kunjungan kelas yaitu melaksanakan penilaian terhadap pelaksanaan pembelajaran di kelas sesuai dengan jam mengajar masing-masing guru yang sudah terjadwal pada jadwal pelajaran semester genap tahun pelajaran 2008/2009 SD Negeri 2-5 Bangsri.

Pada tabel 3 di bawah ini akan diuraikan skor penilaian tiap-tiap aspek:

No Aspek yang Dinilai Skor Maksimal
1. Pra Pembukaan 10
2. Pembukaan Pelajaran 10
3. Penguasaan Materi Pelajaran 10
4. Pendekatan/Strategi Pembelajaran 30
5. Pemanfaatan sumber belajar/media pembelajaran 15
6. Pembelajaran yang memicu dan memelihara ketertiban siswa 25
7. Penilaian proses dan hasil belajar 10
8. Penggunaan bahasa 15
9. Menutup pelajaran 10

Tabel 4: Aspek Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran

Aspek yang Dinilai Unsur Penilaian/Kriteria Skor Kategori
Pra Pembelajaran 1. Kesiapan ruang, alat pembelajaran, dan media 1, 2, 3, 4, 5 5 = sangat baik

4 = baik

3 = cukup baik

2 =kurang baik

1 = tidak baik

2. Memeriksa kesiapan siswa 1, 2, 3, 4, 5
Membuka pembelajaran 1. Melaksanakan kegiatan apersepsi 1, 2, 3, 4, 5
2. Menyampaikan kompetensi yang akan dicapai dan rencana kegiatan 1, 2, 3, 4, 5
Penguasaan materi 1. Menunjukkan penguasaan materi pembelajaran 1, 2, 3, 4, 5
2. Mengaitkan materi dengan pengetahuan yang relevan 1, 2, 3, 4, 5
Pendekatan/strategi pembelajaran 1. Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai 1, 2, 3, 4, 5
2. Melaksanakan pembelajaran secara runtun 1, 2, 3, 4, 5
3. Menguasai kelas 1, 2, 3, 4, 5
4. Melaksanakan pembelajaran yang bersifat kontesktual 1, 2, 3, 4, 5
5. Melaksanakan pembelajaran yang memungkinkan tumbuhnya kebiasaan positif 1, 2, 3, 4, 5
6. Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan alokasi waktu yang direncanakan 1, 2, 3, 4, 5
Pemanfaatan sumber belajar dan media pembelajaran 1. Menunjukkan keterampilan dalam penggunaan sumber/media pembelajaran 1, 2, 3, 4, 5
2. Menghasilkan pesan yang sangat menarik 1, 2, 3, 4, 5
3. Melibatkan siswa dalam pembuatan/pemanfaatan sumber/media belajar 1, 2, 3, 4, 5
Pembelajaran yang memicu dan memelihara keterlibatan siswa 1. Menumbuhkan partisipasi aktif siswa melalui interaksi guru, siswa dan sumber belajar 1, 2, 3, 4, 5
2. Merespon positif partisipasi siswa 1, 2, 3, 4, 5
3. Menunjukan sikap terbuka terhadap respon siswa 1, 2, 3, 4, 5
4. Menunjukkan hubungan antara pribadi yang kondusif 1, 2, 3, 4, 5
5. Menumbuhkan keceriaan dan antusiasme siswa dalam belajar 1, 2, 3, 4, 5
Penilaian proses dan hasil belajar 1. Memantau kemajuan belajar 1, 2, 3, 4, 5
2. Melaksanakan penilaian akhir sesuai dengan kompetensi 1, 2, 3, 4, 5
Penggunaan Bahasa 1. Penggunaan bahasa lisan dengan jelas dan lancar 1, 2, 3, 4, 5
2. Menggunakan bahasa tulis yang baik dan benar 1, 2, 3, 4, 5
3. Menyampaikan pesar dengan gaya yang sesuai 1, 2, 3, 4, 5
Penutup 1. Melakukan refleksi atau membuat rangkuman dengan melibatkan siswa 1, 2, 3, 4, 5
2. Melaksanakantindak lanjut siswa 1, 2, 3, 4, 5

5. Pedoman Observasi

Pedoman observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Lembar Pengamatan untuk supervisor dan guru kelas yang disupervisi. Lembar Pengamatan yang digunakan untuk mendapatkan data tentang perilaku/aktivitas guru kelas dan siswa selam proses pembelajaran yang berlangsung pada siklus I dan siklus II.

Aspek perilaku/aktivitas yang menjadi obyek pengamatan peneliti lebih ditekankan pada aktivitas inti pembelajaran berlangsung. Perilaku yang diamatai meliputi perilaku positif dan negatif guru kelas dan siswa selama pembelajaran berlangsung. Observasi dilakukan oleh supervisor dengan menggunakan lembar pengamatan.

6. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah penilaian yang dilakukan sebanyak dua kali, yaitu siklus I dan siklus II. Bentuk penilaiannya adalah penilaian terhadap pra pembelajran, dan penilaian terhadap pelaksanaan pembelajaran di kelas. Penilaian diberikan kepada guru kelas SD Negeri 2-5 Bangsri.

Target tingkat keberhasilan guru ditetapkan jika guru dapat melaksanakan pembelajaran dalam kategori baik, sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah disusun. Di samping teknik yagn digunakan untuk mengamati aktivitas guru kelas dan siswa dalam proses pembelajaran, dengan cara memberi tanda cek (ü) pada lembar observasi.

7. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu secara kuantitatif dan kualitatif.

a. Teknik Kuantitatif

Teknik Kuantitatif digunakan untuk menganalisis data kuantitatif. Data diperoleh dari hasl penilaian perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran mulai siklus I dan siklus II. Langkah penghitungannya adalah sebagai berikut: (1) menghitung skor kumulatif dari seluruh aspek yang diperoleh oleh setiap guru; (2) menghitung nilai tiap-tiap guru dengan rumus jumlah skor yang diperoleh dibagi skor maksimal dikalikan seratus; (3) menghitung nilai rata-rata; (4) menghitung prosentase nilai.

Prosentase nilai dilakukan untuk mengetahui jawaban dan untuk keperluan diskripsi analisis data secara kualitatif. Nilai rata-rata dan prosentase nilai dihitung dengan rumus:

NR = JNSR
JR
NP = JNSR * 100
JR

Keterangan:
NR  = Nilai Rata-Rata

NP  = Nilai Prosentase

JNSR          = Jumlah Nilai Semua Responden

JR    = Jumlah Responden

Hasil perhitungan penilaian dari siklus I dan siklus II dibandingkan sehingga diketahui peningkatan kemampuan merencanakan dan melaksanakan pembelajaran melalui kegiatan supervisi klinis.

b. Teknik Kualitatif

Teknik Kualitatif digunakan untuk menganalisis hasil pra pembelajaran dan pelaksanaan pembelajaran. Dari hasil perbandingan tersebut akan diketahui peningkatan keterampilan/aktivitas dalam pelaksanaan pembelajaran melalui supervisi klinis, baik bagi peneliti/supervisor dan guru sebagai obyek penelitian (yang disupervisi)

D. Indikator Keberhasilan

Penelitian tindakan sekolah ini menetapkan indikator keberhasilan antara lain sebagai berikut:

  1. Jika guru telah menunjukkan hasil penilaian perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran melalui supervisi klinis dengan kategori baik dengan rata-rata 75.
  2. Telah terjadi perubahan perilaku setelah dilakukan supervisi kunjungan kelas, dilihat dari data hasil observasi ke arah perubahan yang positif.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Kondisi Awal

Kondisi awal merupakan keadaan sebelum tindakan dilaksanakan. Sebelum tindakan siklus I terlebih dahulu dilaksanakan pendataan awal terhadap persiapan pelaksanaan supervisi klinis. Dalam hal ini semua guru kelas mengumpulkan administrasi pengajaran/perangkat pembelajaran. Kemudian perangkat pembelajaran tersebut dinilai untuk mengetahui sejauh mana kemampuan awal guru kelas dalam mempersiapkan perangkat pembelajaran.

2. Hasil Tindakan Pra Siklus

Tindakan pra siklus yang dilakukan yaitu melaksanakan penilaian terhadap pembelajaran yang dibuat oleh guru kelas sebelum diadakan kunjungan kelas sebelum diadakan kunjungan kelas oleh supervisor. Penilaian tersebut meliputi rencana pelaksanaan pembelajaran, materi/bahan pengajaran, media pembelajaran, metode pembelajaran, dan penilaian. Hasil yang diperoleh pada siklus pra siklus I dalam penilaian ini adalah sebagai berikut:

Tabel 5: Hasil penilaian perencanaan pembelajaran pada pra siklus

No Kategori Rentang Nilai Frek Nilai Prosentase Ket
1. Sangat baik 91 – 100 = 68,82

Kategori Cukup

2. Baik 75 – 90 1 78,82 17 %
3. Cukup 55 – 74 5 334,09 83 %
4. Kurang < 55
Jumlah 6 412,91 100 %

Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa kemampuan guru kelas di SD Negeri 2-5 Bangsri dalam persiapan pengajaran dalam kategori cukup dengan nilai rata-rata 68,82. Adapun rincian data dapat dijelaskan sebagai berikut: dari jumlah guru kelas ada 83 % guru dalam kategori cukup dengan rentang nilai antara 55 – 74 dan 17 % guru dalam kategori baik dengan rentang nilai antara 75 – 90 sedangkan untuk kategori sangat baik dengan rentang nilai 91 – 100 masih 0 %.

3. Hasil Siklus I

Siklus I merupakan tindakan awal penelitian dengan melaksanakan supervisi kunjungan kelas. Tindakan siklus I dilakukan supervisi kunjungan kelas untuk diadakan penilaian, kegiatan ini merupakan upaya untuk mengetahui permasalahan-permasalahan yang ada dan cara pemecahan masalah-masalah tersebut. Kunjungan kelas dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya.

a. Hasil Penilaian Persiapan Pembelajaran

Hasil penilaian persiapan pembelajaran merupakan data awal setelah dilakukan supervisi. Kriteria penilaian pada siklus ini masih tetap sama seperti pada penilaian pra siklus yang meliputi: (1) perumusan tujuan; (2) penjabaran materi; (3) alat/bahan pelajaran; (4) langkah-langkah PBM, dan (5) penilaian.

Secara umum hasil penilaian persiapan pembelajaran dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 6: Hasil penilaian persiapan pembelajaran pada siklus I

No Kategori Rentang Nilai Frek Nilai Prosentase Ket
1. Sangat baik 91 – 100 = 80,78

Kategori Baik

2. Baik 75 – 90 5 412,91 83 %
3. Cukup 55 – 74 1 72,94 17 %
4. Kurang < 55
Jumlah 6 485,85 100 %

Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa hasil penelitian kemampuan persiapan pembelajaran secara klasikal mencapai rata-rata 80,78 dengan kategori baik. Nilai rata-rata tersebut dapat dikatakan telah mengalami peningkatan sebesar 11,96 dari hasil pra siklus. Hasil penelitian pada siklus I sudah memenuhi target dalam kategori baik, namun belum pada nilai maksimal yaitu antara 91 – 100 sehingga diperlukan penilaian siklus II.

Dari jumlah guru tersebut belum ada yang meraih kategori sangat baik dengan nilai antara 91 – 100, kategori baik dengan nilai 75 – 90 diperoleh 83 % guru dan 17 % guru dalam kategori cukup baik dengan nilai antara 55 – 74.

Hasil penilaian tersebut merupakan jumlah nilai 5 aspek penilaian persiapan pembelajaran, yaitu: (1) perumusan tujuan; (2) penjabaran materi; (3) alat/bahan pelajaran; (4) langkah-langkah PBM, dan (5) penilaian. Secara rinci hasil penilaian persiapan pembelajaran pada siklus I akan diuraikan pada tiap aspek penilaian persiapan pembelajaran.

Tabel 7: rata-rata perolehan nilai tiap aspek pada siklus I

No Aspek Penilaian Skor Mak-simal Rata-Rata Skor Rata-Rata Nilai Kategori
1. Perumusan tujuan 15 13,33 80,86 Baik
2. Penjabaran materi 20 15,80 79,00 Baik
3. Alat/bahan pelajaran 15 10,83 72,20 Cukup
4. Langkah-langkah PBM 20 15,00 75,00 Baik
5. Penilaian 15 13,80 92,00 Sangat Baik
Jumlah 68,83 80,78

Pada tabel 7 dapat disimpulkan bahwa kemampuan guru dalam persiapan pengajaran telah mengalami peningkatan. Hal ini terbukti dengan nilai tiap-tiap aspek penilaian persiapan pembelajaran, pada siklus I dapat diketahui nilai rata-rata sebesar 80,78 dalam kategori baik.

b. Hasil Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran

Hasil Penilaian pelaksanaan Pembelajaran merupakan data yang diperoleh setelah melakukan penilaian persiapan pembelajaran yang telah dinilai tersebut diterapkan dalam pelaksanaan pembelajaran, untuk mengetahui tingkat sikap profesionalisme guru dalam pembelajaran di kelas melalui supervisi klinis. Adapun kriteria penilaian pelaksanaan pembelajaran pada siklus I meliputi 9 aspek penilaian, yaitu: (1) pra pembelajaran; (2) pembukaan pembelajaran; (3) penguasaan materi pelajaran; (4) pendekatan/strategi pembelajaran; (5) pemanfaatan sumber belajar/media pembelajaran; (6) pembelajaran yang memicu dan memelihara keterlibatan siswa; (7) penilaian proses dan hasil belajar; (8) penggunaan bahasa, dan (9) menutup pelajaran.

Tabel 8: hasil penilaian pelaksanaan pembelajaran pada siklus I

No Kategori Rentang Nilai Frek Nilai Prosentase Ket
1. Sangat baik 91 – 100 = 71,35

Kategori Cukup

2. Baik 75 – 90 3 237,77 50 %
3. Cukup 55 – 74 3 190,37 50 %
4. Kurang < 55
Jumlah 6 428,14 100 %

Data pada tabel di atas bahwa hasil penilaian kemampuan melaksanakan pembelajaran secara kelompok mencapai rata-rata 71,35 dengan kategori cukup. Hasil penelitian pada siklus I belum dapat memenuhi target maksimal, yaitu nilai 91 – 100 sehingga perlu dilaksanakan penelitian siklus II.

Dari 6 guru tersebut belum ada yang dapat meraih kategori sangat baik dengan nilai antara 91 – 100, kategori baik dengan nilai 75 – 90 diperoleh 50 % guru dan kategori cukup dengan nilai antara 55 – 74 diperoleh 50 % guru.

Belum maksimalnya hasil penilaian dikarenakan berbagai hal, antara lain kurangnya pengalaman mengajar, mengingat 50 % dari jumlah guru yang ada merupakan guru yang belum pernah mengajar di tempat lain, di samping itu kondisi mental guru menurun pada saat dilakukan kunjungan kelas dalam penilaian pelaksanaan kunjungan pembelajaran.

Hasil penilaian tersebut merupakan jumlah penilaian 9 aspek penilaian pelaksanaan pembelajaran, yaitu: (1) pra pembelajaran; (2) pembukaan pembelajaran; (3) penguasaan materi pelajaran; (4) pendekatan/strategi pembelajaran; (5) pemanfaatan sumber belajar/media pembelajaran; (6) pembelajaran yang memicu dan memelihara keterlibatan siswa; (7) penilaian proses dan hasil belajar; (8) penggunaan bahasa, dan (9) menutup pelajaran.

Tabel 9: Rata-rata perolehan nilai tiap aspek pada siklus I

No Aspek Penilaian Skor Mak-simal Rata-Rata Skor Rata-Rata Nilai Kategori
1. Pra pembelajaran 10 7,83 78,3 Baik
2. Pembukaan pembelajaran 10 9,00 90,0 Baik
3. Penguasaan materi pelajaran 10 7,16 71,6 Cukup
4. Pendekatan/strategi pembelajaran 30 21,66 72,2 Cukup
5. Pemanfaatan sumber belajar/media pembelajaran 15 9,50 63,3 Cukup
6. Pembelajaran yang memicu dan memelihara keterlibatan siswa 25 18,66 74,6 Cukup
7. Penilaian proses dan hasil belajar 10 6,33 63,3 Cukup
8. Penggunaan bahasa 15 11,16 74,4 Cukup
9. Menutup pelajaran 10 5,00 50,0 Kurang
Jumlah 135 96,30 71,35 Cukup

Pada tabel 9 dapat disimpulkan bahwa kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran masih dalam kategori cukup. Hal ini terbukti dengan nilai tiap-tiap aspek penilaian pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan setelah guru disupervisi kunjungan kelas, meskipun pada aspek menutup pembelajaran masih berada pada kategori kurang, pada siklus I dapat diketahui nilai rata-rata sebesar 71,35 yang termasuk dalam kategori cukup.

c. Hasil Pengamatan Pelaksanaan Kunjungan Kelas

Hasil observasi dalam penelitian adalah pengamatan terhadap peneliti sekaligus sebagai supervisor dan guru sebagai yang disupervisi, yang dilakukan oleh supervisor sebagai pengamat. Pengambilan data obervasi dilakukan selama proses pelaksanaan kunjungan kelas di SD Negeri 2-5 Bangsri. Pengambilan data obervasi ini bertujuan untuk memotret aktivitas supervisor, guru kelas, dan siswa pada saat kunjungan kelas dilaksanakan.

Obyek sasaran yang diamati dalam observasi peneliti meliputi 9 perilaku yang muncul pada saat kunjungan kelas berlangsung. Adapun obyek sasaran observasi antara lain meliputi: (1) pra pembelajaran; (2) pembukaan pembelajaran; (3) penguasaan materi pelajaran; (4) pendekatan/strategi pembelajaran; (5) pemanfaatan sumber belajar/media pembelajaran; (6) pembelajaran yang memicu dan memelihara keterlibatan siswa; (7) penilaian proses dan hasil belajar; (8) penggunaan bahasa, dan (9) menutup pelajaran. Berdasarkan hasil pengamatn pelaksanaan kunjungan kelas di SD Negeri 2-5 Bangsri dalam kategori baik dengan skor nilai 80,66.

Dari hasil observasi pelaksanaan kunjungan kelas terlihat bahwa guru yang melakukan perilaku negatif yaitu guru yang sering meninggalkan kelas, ternyata dalam hasil penilaian mendapat nilai paling rendah sebesar 72,94 dalam kategori cukup, padahal guru yang lain mendapat nilai dalam kategori baik. Hal ini menunjukkan kurang tertib dalam pembelajaran secara langsung berpengaruh terhadap penilaian pembelajaran.

4. Hasil Siklus II

Tindakan siklus II dilakukan karena pada siklus I kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran di SD Negeri 2-5 Bangsri masih bermasuk dalam kategori cukup, belum memenuhi target maksinal nilai dalam kategori baik dengan rentang nilai antara 75 – 90. Selain itu dalam proses kegiatan pembelajaran masih ada perilaku-perilaku yang negatif baik guru maupun siswa, walaupun berdasarkan pengamatan bahwa pelaksanaan pembelajaran secara umum berjalan dengan baik. Dengan demikian tindakan siklusII dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut.

Pada siklus II ini peneliti melaksanakan tindakan dengan rencara dan persiapan yang lebih matang dari pada siklus I. Dengan adanya perbaikan-perbaikan pada persiapan dan pelaksanaan pembelajaran diharapkan dapat meningkatkan hasil yaitu kemampuan/profesionalisme guru dalam merencanakan pembelajaran dan kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran dapat meningkat seperti yang diharapkan/ditargetkan. Hasil penelitian, hasil observasi siklus II ini diuraikan secara rinci sebagai berikut:

a. Hasil Penilaian Pra Pembelajaran

Hasil penilaian pra pembelajaran/persiapan pembelajaran pada siklus II ini merupakan data kedua setelah dilakukannya perbaikan kegiatan pembelajaran dari siklus I, kriteria penilaian pada siklus II masih tetap sama seperti siklus I, yaitu meliputi: (1) perumusan tujuan; (2) penjabaran materi; (3) alat/bahan pelajaran; (4) langkah-langkah PBM, dan (5) penilaian.

Secara umum hasil penilaian pra pembelajaran dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 10: Hasil penilaian pra pembelajaran pada siklus II

No Kategori Rentang Nilai Frek Nilai Prosentase Ket
1. Sangat baik 91 – 100 3 279,99 50 % = 91,17

Kategori Sangat Baik

2. Baik 75 – 90 3 267,03 50 %
3. Cukup 55 – 74 72,94
4. Kurang < 55
Jumlah 6 547,02 100 %

Dari data pada tabel 10 menunjukkan bahwa hasil penilaian kemampuan merencanakan pembelajaran secara klasikal mencapai rata-rata 91,17 termasuk kategori sangat baik, berarti dapat menunjukkan bahwa kemampuan guru SD Negeri 2-5 Bangsri dalam pra/merencanakan pembelajaran berkategori sangat baik. Nilai rata-rata tersebut telah mengalami peningkatan sebesar 10,39 %. Dari jumlah keseluruhan guru, 3 guru atau 50 % dikategorikan sangat baik dengan rentang nilai antar 91 – 100, sedangkan 3 guru atau 50 % termasuk dalam kategori baik dengan nilai antara 75 – 90. Hasil rata-rata nilai dengan kategori nilai sangat baik merupakan keberhasilan guru dalam melaksanakan pembelajaran di SD Negeri 2-5 Bangri. Hasil penilaian pra/perencanaan pembelajaran pada siklus II akan diuraikan pada tiap aspek penilaian pra pembelajaran.

Tabel 11: Rata-rata perolehan nilai tiap aspek pada siklus II

No Aspek Penilaian Skor Maksimal Rata-Rata Skor Rata-Rata Nilai Kategori
1. Perumusan tujuan 15 14,80 98,8 Sangat baik
2. Penjabaran materi 20 17,5 87,5 Baik
3. Alat/bahan pelajaran 15 12,66 84,4 Baik
4. Langkah-langkah PBM 20 17,50 87,5 Baik
5. Penilaian 15 15,0 100 Sangat baik
Jumlah 85 77,46 91,17

Pada tabel 11 dapat disimpulkan bahwa kemampuan guru dalam pra pembelajaran telah mengalami peningkatan. Hal ini terbukti dengan nilai tiap-tiap aspek penilaian pra pembelajaran yang dilakukan melalui kunjungank kelas pada siklus II dapat diketahui nilai rata-rata sebesar 91,17 termasuk dalam kategori sangat baik.

b. Hasil Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran

Hasil penilaian pelaksanaan pembelajaran pada siklus II ini merupakan data kedua setelah diperlakukan perbaikan pelaksanaan pembelajaran pada siklus I. kriteria penilaian pada siklus II ini masih tetap sama seperti siklus I, yaitu meliputi: (1) pra pembelajaran; (2) pembukaan pembelajaran; (3) penguasaan materi pelajaran; (4) pendekatan/strategi pembelajaran; (5) pemanfaatan sumber belajar/media pembelajaran; (6) pembelajaran yang memicu dan memelihara keterlibatan siswa; (7) penilaian proses dan hasil belajar; (8) penggunaan bahasa, dan (9) menutup pelajaran. Secara umum hasil penilaian pelaksanaan pembelajaran dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 12: Hasil penilaian pelaksanaan pembelajaran siklus II

No Kategori Rentang Nilai Frek Nilai Prosentase Ket
1. Sangat baik 91 – 100 = 83,70

Kategori Baik

2. Baik 75 – 90 5 428,88 83 %
3. Cukup 55 – 74 1 73,33 17 %
4. Kurang < 55
Jumlah 6 502,21 100 %

Dari data pada tabel 12 menunjukkan bahwa hasil penilaian kemampuan melaksanakan pembelajaran mencapai nilai rata-rata 83,70 dengan kategori baik, berarti dapat menunjukkan bahwa kemampuan guru kelas di SD Negeri 2-5 Bangsri dalam melaksanakan pembelajaran berkategori baik. Nilai rata-rata tersebut mengalami peningkatan 13,59 %. Dari jumlah keseluruhan guru, 5 guru di antaranya atau 83 % termasuk dalam kategori baik dengan nilai antar 75 – 90, sedangkan 1 guru atau 17 % termasuk dalam kategori cukup. Masih terdapatnya tingkat kemampuan guru berkategori cukup tersebut disebabkan berbagai hal, salah satu di antaranya adalah guru yang bersangkutan belum menguasai kelas dengan baik, selam PBM siswa saling berbicara sendiri  dan kurang memperhatikan guru. Hasil penilaian pelaksanaan pembelajaran pada siklus II akan diuraikan pada tiap aspek penilaian pelaksanaan pembelajaran.

Tabel 13: Rata-rata perolehan nilai tiap aspek pada siklus II

No Aspek Penilaian Skor Maksimal Rata-Rata Skor Rata-Rata Nilai Kategori
1. Pra pembelajaran 10 9,00 90,00 Baik
2. Pembukaan pembelajaran 10 9,33 93,33 Sangat baik
3. Penguasaan materi pelajaran 10 8,16 81,60 Baik
4. Pendekatan/strategi pembelajaran 30 24,83 81,10 Baik
5. Pemanfaatan sumber belajar/media pembelajaran 15 12,00 80,00 Baik
6. Pembelajaran yang memicu dan memelihara keterlibatan siswa 25 21,00 84,00 Baik
7. Penilaian proses dan hasil belajar 10 8,33 83,30 Baik
8. Penggunaan bahasa 15 12,66 84,44 Baik
9. Menutup pelajaran 10 8,16 81,60 Baik
Jumlah 135 83,70 Baik

Pada tabel 13 dapat disimpulkan bahwa kemampuan guru dalm melaksanakan pembelajaran telah mengalami peningkatan. Hal ini terbukti dengan nilai tiap-tiap aspek penilaian pelaksanaan pembelajaran pada siklus II dapat diketahui nilai rata-rata 83,10 dengan kategori baik.

c. Hasil Pengamatan Pelaksanaan Pembelajaran

Hasil observasi siklus II dalam penelitian ini adalah pengamatan terhadap aktivitas guru dan siswa dalam KBM yang dilakukan oleh supervisor. Pengambilan data observasi dilakukan selama proses pelaksanaan pembelajaran di SD Negeri 2-5 Bangsri. Pengambilan data observasi ini bertujuan untuk memotret aktivitas guru dan siswa dalam proses KBM.

Obyek sasaran yang diamati dalam observasi ini, meliputi 9 perilaku, yaitu:  (1) pra pembelajaran; (2) pembukaan pembelajaran; (3) penguasaan materi pelajaran; (4) pendekatan/strategi pembelajaran; (5) pemanfaatan sumber belajar/media pembelajaran; (6) pembelajaran yang memicu dan memelihara keterlibatan siswa; (7) penilaian proses dan hasil belajar; (8) penggunaan bahasa, dan (9) menutup pelajaran. Berdasarkan hasil pengamatan pelaksanaan pembelajaran siklus II bahwa pelaksanaan pembelajaran di SD Negeri 2-5 Bangsri dalam kategori baik dengan skor nilai 88,66. Hasil pengamatan tersebut dapat dikatakan telah mengalami peningkatan sebesar 8 persen dari hasil pengamatan yang dilakukan pada siklus I.

Berdasarkan catatan pengamat pada siklus II terdapat beberapa perubahan perilaku guru antara lain: (1) pengajaran dimulai tepat waktu; (2) tidak terdapat guru yang sering menginggalkan ruang kelas; (3) terdapat perbaikan dalam pelaksanaan pembelajaran.

Dari hasil observasi siklus II terlihat bahwa sudah ada perubahan yang lebih profesional guru kelas dari perilaku negatif pada siklus I menjadi perilaku positif pada siklus II, terbukti adanya peningkatan nilai rata-rata, baik nilai pra pembelajaran sebesar 12,35 % serta peningkatan skor pengamatan sebesar 8 %. Berdasarkan catatan pengamatan siklus II dapat disimpulkan dari jumlah guru seluruhnya telah terjadi peningkatan sikap profesionalnya.

  1. B. Pembahasan

Pembahasan hasil penelitian didasarkan pada hasil pra siklus, hasil tindakan siklus I dan hasil tindakan siklus II. Penelitian tindakan sekolah ini dilaksanakan melalui 2 tahap, yaitu siklus I dan siklus II. Pembahasan hasil penelitian tersebut terdiri dari penilaian pra pembelajaran yang meliputi 5 aspek, yaitu: (1) pra pembelajaran; (2) pembukaan pembelajaran; (3) penguasaan materi pelajaran; (4) pendekatan/strategi pembelajaran; (5) pemanfaatan sumber belajar/media pembelajaran; (6) pembelajaran yang memicu dan memelihara keterlibatan siswa; (7) penilaian proses dan hasil belajar; (8) penggunaan bahasa, dan (9) menutup pelajaran.

Kegiatan tindakan dilakukan sebelum tindakan siklus I. hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui gambaran kondisi awal kemampuan guru sebelum mengikuti siklus I. Setelah melaksanakan kegiatan, menganalisis, peneliti melakukan tindakan siklus I dan siklus II.

Dalam penelitian ini peneliti dibantu oleh kepala sekolah untuk melakukan observasi. Pada hari berikutnya sesuai dengan jadwal mengajar masing-masing guru dilakukan supervisi kunjungan kelas untuk menilai kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran. Semua kegiatan tersebut dilakukan hingga dua kali, yaitu siklus I dan siklus II pada tempat yang sama. Pada akhir kegiatan dilakukan penelitian pra pembelajaran, yang hasilnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 14: hasil penilaian pra pembelajaran pada pra tindakan siklus I dan siklus II

No Aspek Penilaian Nilai Rata-Rata Peningkatan %
Pra siklus Siklus I Siklus II Pra siklus – siklus I Siklus I – siklus II Pra siklus – siklus II
1. Perumusan tujuan 78,8 88,8 98,8 10% 10 % 20 %
2. Penjabaran materi 65,0 79,0 82,5 14 % 3,5 % 17,5 %
3. Alat/bahan pelajaran 65,3 72,2 84,4 6,9 % 12,2 % 19,1 %
4. Langkah-langkah PBM 66,4 75,0 87,5 8,6 % 12,5 % 21,1 %
5. Penilaian 68,6 92,0 100 23,4 % 8 % 31,4 %
Jumlah 68,82 80,78 91,17 10,38 % 10,38 % 22,35 %

Berdasarkan rekapitulasi data pada tabel 14, hasil penilaian pra pembelajaran dari pra siklus, siklus I, sampai siklus II sebagaimana tersaji dalam tabel di atas, dapat dijelaskan bahwa kemampuan guru pada setiap aspek penilaian pra pembelajaran semua mengalami peningkatan. Uraian tabel tersebut dapat dijelaskan secara rinci sebagai berikut:

Hasil penilaian pra pembelajaran siklus I dengan nilai rata-rata mencapai 80,78 atau dalam kategori baik karena berada dalam rentang nilai 75 – 90. Hasil tersebut sudah memenuhi target nilai rata-rata pada siklus I yaitu 75. Nilai rata-rata tersebut diakumulasikan dari beberapa aspek penilaian. Pada aspek perumusan tujuan pembelajaran sebesar 88,8 termasuk kategori baik. Hal ini dikarenakan guru sudah memahami rumusan tujuan pembelajaran.

Pada aspek penjabaran materi nilai rata-rata sebesar 79,0 termasuk dalam kategori baik, karena guru sudah dapat memilih dan mengorganisasikan materi ajar. Aspek alat/bahan pelajaran nilai rata-rata sebesar 72,2 dalam kategori cukup, dalam hal ini guru belum maksimal terhadap pemilihan sumber belajar/materi pelajaran. Aspek langkah-langkah PBM nilai rata-rata sebesar 75,0 termasuk dalam kategori baik berarti guru sudah dapat menentukan langkah-langkah PBM temasuk pemilihan metode mengajar yang sesuai dengan tujuan pembelajaran, materi dan karekteristik siswa. Aspek penilaian mencapai nilai rata-rata 92 dalam kategori sangat baik terutama dalam aspek ini guru memahami tentang penilaian hasil belajar secara lengkap yang meliputi: kisi-kisi soal, kunci jawaban, norma penilaian.

Hasil penilaian pra pembelajaran pada siklus II sudah mencapai nila rata-rata sebesar 91,17 dengan hasil sangat baik. Pencapaian nilai tersebut berarti sudah melampaui target yang telah ditentukan, dengan demikian tindakan siklus III tidak perlu dilakukan.

Rencana pembelajaran yang telah dilaksanakan penilaiannya, pada hari berikutnya dipakai sebagai pedoman dalam melaksanakan pembelajaran di kelas untuk mengetahui kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran. Penilaian pelaksanaan pembelajran dapat dilihat hasilnya pada tabel di bawah ini.

Tabel 15: hasil penilaian pelaksanaan pembelajran pada siklus I dan siklus II

No Aspek Penilaian Nilai Rata-Rata Peningkatan %
Siklus I Siklus II
1. Pra pembelajaran 78,30 90,00 11,70 %
2. Pembukaan pembelajaran 90,00 93,33 3,33 %
3. Penguasaan materi pelajaran 71,60 81,60 10 %
4. Pendekatan/strategi pembelajaran 72,22 81,10 8,88 %
5. Pemanfaatan sumber belajar/media pembelajaran 63,33 80,00 16,67 %
6. Pembelajaran yang memicu dan memelihara keterlibatan siswa 74,60 84,00 9,4 %
7. Penilaian proses dan hasil belajar 63,30 83,30 20 %
8. Penggunaan bahasa 74,44 84,44 10 %
9. Menutup pelajaran 50,00 81,60 10 %
Jumlah 71,35 83,70 12,35 %

Berdasarkan rekapitulasi pelaksanaan pembelajaran siklus I dengan nilai rata-rata 71,35 termasuk dalam kategori cukup, karena berada dalam rentang nilai 55 – 74. Hasil tersebut belum dapat mencapai target nilai yang diharapkan yaitu 75. Nilai rata-rata tersebut diakumulasikan dari beberapa aspek penilaian. Pada aspek pra pembelajaran sebesar 78,3 termasuk dalam kategori baik, dalam hal ini guru sudah melaksanakan kegiatan pra pembelajaran yang meliputi pemeriksaan ruang, alat, media, siswa dengan baik. Aspek pembukaan pembelajaran sebesar 90,00 termasuk dalam kategori baik, berarti guru sudah melaksanakan pembukaan pembelajaran dnngan melakukan apresiasi, menyampaikan tujuan kompetensi yang akan dicapai dengan baik. Aspek penguasaan materi pembelajaran sebesar 71,60 termasuk dalam kategori cukup, berarti kemampuan guru dalam penguasaan materi pembelajaran cukup baik. Aspek pendekatan/strategi pembelajaran sebesar 72,22 termasuk dalam kategori cukup, hal ini guru dalam menggunakan strategi pembelajaran cukup baik. Aspek pemanfaatan sumber belajar/media pembelajaran sebesar 63,33 termasuk dalam kategori cukup, berarti guru dalam memanfaatkan sumber/media pembelajaran cukup baik. Aspek pembelajaran yang memicu keterlibatan siswa dalam pembelajaran sebesar 74,60 termasuk dalam kategori baik, berarti guru sudah baik dalam memicu keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Aspek penilaian proses dan hasil belajar sebesar 63,30 termasuk dalam kategori cukup, dalam hal ini melaksanakan penilaian proses dan hasil belajar cukup baik. Aspek penggunaan lisan nilai rata-ratanya sebesar 74,44 termasuk dalam kategori baik, berarti guru sudah menggunakan bahasa lisan dan bahasa tulisan dengan baik. Aspek penutup pembelajaran nilai rata-ratanya 50,00 termasuk dalam kategori kurang, pada siklus ini guru belum mengakhiri pembelajaran dengan bik, hal ini dikarenakan pembagian alokasi waktu yang kurang sehingga kehabisan waktu sebelum memberi rangkuman/refleksi dan tindak lanjut.

Hasil penilaian pelaksanaan pembelajaran siklus II diperoleh nilai rata-rata sebesar 83,70 termasuk dalam kategori baik karena berada pada rentang nilai 75 – 90. Pencapaian nilai tersebut berarti sudah memenuhi target yang telah ditentukan, dengan demikian tindakan siklus III tidak perlu dilakukan. Nilai masing-masing aspek pada siklus II diuraikan sebagai berikut:

Pada aspek pra pembelajaran siklus II mencapai nilai 90,00 termasuk dalam kategori baik dan terjadi peningkatan 11,7 % dari siklus I dengan baik. Aspek pembukaan pembelajaran siklus II mencapai nilai rata-rata 93,33 termasuk dalam kategori sangat baik dan terjadi peningkatan 3,33 % dari siklus I karena guru melaksanakan pembukaan pembelajaran dengan sangat baik. Aspek penguasaan materi pembelajaran pada siklus II mencapai nilai rata-rata 81,60 termasuk dalam kategori baik  dan terjadi peningkatan 10 % dari siklus I, menunjukkan bahwa guru menguasai materi ajar dengan baik. Aspek pendekatan/strategi pembelajaran siklus II mencapai nilai rata-rata 81,10 termasuk dalam kategori baik dan terjadi peningkatan 8,88 % dari siklus I. Hal ini terjadi karena guru dalam penggunaan pendekatan/strategi pembelajaran sudah baik. Aspek pemanfaatan sumber/media pembelajaran siklus II mencapai rata-rata 80,00 termasuk dalam kategori baik dan terjadi peningkatan 16,67 % dari siklus I, karena guru memanfaatkan sumber/media pembelajaran dengan baik. Aspek pembelajaran yang memicu dan memelihara ketertiban siswa mencapai nilai rata-rata 84,00 termasuk dalam kategori baik dan terjadi peningkatan 9,4 %  dari siklus I, karena guru melaksanakan pembelajaran yang memicu dan memelihara ketertiban siswa dengan baik. Aspek penilaian proses dan hasil belajar siklus II mencapai nilai rata-rata 83,3 termasuk dalam kategori baik, dan terjadi peningkatan 9,4 % dari siklus I karena guru telah melaksanakan penilaian proses dan hasil belajar siswa dengan baik. Aspek penggunaan bahasa siklus II mencapai nilai rata-rata 84,44 termasuk dalam kategori baik dan terjadi peningkatan sebesar 10 % dari siklus I, karena guru menggunakan bahasa tulis dan bahasa lisan dengan baik dan lancar. Aspek penutupan pembelajaran siklus II mencapai nilai rata-rata sebesar 82,6 termasuk dalam kategori baik dan terjadi peningkatan 31 % dari siklus I, peningkatan ini dikarenakan guru sudah melaksanakan penutupan pembelajaran, yaitu melakukan refleksi/rangkuman dan melaksanakan tindak lanjut dengan baik.

Peningkatan nilai pra pembelajaran sebesar 11,96 % dari pra siklus ke siklus I, sebesar 10,38 % dari siklus I ke siklus II, sebesar 22,35 % dari pra siklus ke siklus II, yang diikuti dengan peningkatan nilai pelaksanaan pembelajaran sebesar 12,35 % dari siklus I ke siklus II seperti yang tersebut pada tabel 15 dapat menunjukkan adanya peningkatan kemampuan sikap profesionalisme guru dalam pelaksanaan pembelajaran.

Berdasarkan data  pada lembar pengamatan siklus I dan siklus II, maka hasil pengamatan pelaksanaan kunjungan kelas dan pengamatan pelaksanaan pembelajaran siklus I dengan skor 80,66 termasuk dalam kategori baikdan hasil pengamatan pada siklus II mencapai nilai 88,66 termasuk dalam kategori baik, berarti terjadi peningkatan sebesar 8  dari siklus I ke siklus II.

Berdasarkan dari serangkaian analisis data pelaksanaan kunjugan kelas untuk mengetahui profesionalisme guru dalam melaksanakan pembelajaran, telah terjadi perubahan perilaku guru yang positif, maka menunjukkan tingkat profesionalisme guru dalam pelaksanaan pembelajaran. Hasil penilaian pra pembelajaran yang cenderung meningkat diikuti dengan hasil penilaian pelaksanaan pembelajaran yang meningkat pula, ini menunjukkan adanya peningkatan profesionalisme guru dalam melaksanakan pembelajaran.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dengan adanya supervisi klinis melalui kunjungan kelas dapat membantu guru dalam meningkatkan profesionalisme guru dalam pelaksanaan pembelajaran sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas KBM yang baik dan menyenangkan.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan rumusan masalah, hasil penelitian dan pembahasan dalam penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Profesionalisme guru dalam melaksanakan pembelajaran di SD Negeri 2-5 Bangsri setelah supervisi klinis melalui kunjungan kelas dalam kategori baik. Hal ini dapat dibuktikan dengan melalui hasil penilaian pelaksanaan pembelajaran pada siklus I mencapai nilai rata-rata 71,35 termasuk dalam kategori baik, kemudian pada siklus II mencapai nilai rata-rata 83,70 termasuk dalam kategori baik. Dengan demikian terjadi peningkatan pelaksanaan pembelajaran sebesar 12,35 %.
  2. Guru SD Negeri 2-5 Bangsri setelah disupervisi melalui kunjungan kelas pra pembelajran yaitu kemampuan menyusun perencanaan pembelajaran yang sekaligus dapat mengalami peningkatan kemampuan melaksanakan pembelajaran. Peningkatan kemampuan guru tersebut dapat dibuktikan dari hasil penilaian pra pembelajaran pra siklus menunjukkan rata-rata 68,82 dan pada siklus I meningkat sebesar 11,96 % dengan nilai rata-rata 80,78, kemudian pada siklus II meningkat lagi sebesar 10,38 % menjadi 91,17 dengan kategori sangat baik. Peningkatan kemampuan guru dalam pra pembelajaran/perencanaan pembelajaran tersebut sekaligus diikuti dengan peningkatan kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran pada siklus I mencapai nilai sebesar 71,35 dan pada siklus II mencapai nilai rata-rata sebesar 83,70, maka terjadi peningkatan sebesar 12,35 %. Dengan demikain dapat disimpulkan bahwa melalui kegiatan supervisi klinis dengan kunjungan kelas dan meningkatakan profesionalisme guru dalam melaksanakan pra pembelajaran/perencanaan pembelajaran dan dapat mengingkatkan kemampuan melaksanakan pembelajaran di SD Negeri 2-5 Bangsri.

B. Saran

Berdasarkan pada kesimpulan hasil penelitian tersebut peneliti memberikan saran sebagai berikut:

  1. Sekolah hendaknya dapat mempromosikan kegiatan supervisi/kunjungan kelas untuk semua guru setiap semester, sehingga semua guru dapat menyusun perencanaan pembelajaran. Di samping itu dapat menumbuhkan motivasi guru terhadap penyusunan administrasi pembelajaran, mengingat semua skenario pembelajaran tercantum pada rencana pembelajaran. Dengan demikian guru yang melaksanakan pembelajaran selalu berpedoman pada rencana pembelajaran.
  2. Kepala sekolah hendaknya melaksanakan supervisi kunjungan kelas terhadap semua guru secara rutin juga, untuk mengetahui tingkat kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran di kelas dan untuk mengetahui permasalahan-permasalahan yang muncul dalam proses belajar mengajar serta tindak lanjut untuk mencari solusi pemecahan masalahnya dalam rangka peningkatan profesionalisme guru sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas pembelajaran.

Belum Ada Tanggapan to “PENINGKATAN SIKAP PROFESIONALISME GURU MELALUI KEGIATAN SUPERVISI KLINIS DI SEKOLAH DASAR”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: